Solusi tersebut diperkenalkan dalam keynote Vice President Governance and Compliance AWS, Nandini Ramani, pada ajang AWS Summit Jakarta 2026.
Menurut AWS, meningkatnya penggunaan AI membuat pendekatan keamanan siber konvensional tidak lagi memadai. Jika sebelumnya tim keamanan mengandalkan telemetri, penyimpanan data, kueri, dan dashboard, kini sistem perlu mampu memahami konteks, melakukan penalaran (reasoning), hingga mengambil tindakan secara otomatis.
"Kini kita bergerak menuju dunia yang dibangun dengan telemetri, konteks, penalaran, dan tindakan. Semua itu dirancang untuk AI agent. Konteks adalah yang membedakan sinyal penting dari kebisingan data, sementara penalaran menghasilkan insight yang benar-benar dapat ditindaklanjuti. Karena itulah kami memperkenalkan AWS Continuum," kata Nandini Ramani.
AI Bantu Membuat Threat Model Otomatis
Salah satu kapabilitas baru yang diperkenalkan melalui AWS Continuum adalah Continuum Threat Modeling.Nandini menjelaskan, penyusunan threat model selama ini umumnya masih dilakukan secara manual oleh engineer keamanan dan pengembang aplikasi. Selain membutuhkan keahlian khusus, proses tersebut memakan waktu dan sering kali tidak diperbarui ketika arsitektur aplikasi berubah.
Melalui Continuum Threat Modeling, AI dapat secara otomatis menghasilkan threat model berdasarkan arsitektur aplikasi, kode sumber (source code), hingga dokumen desain yang dimiliki perusahaan.
Sistem juga menyertakan rekomendasi mitigasi berdasarkan enam kategori STRIDE, sehingga tim keamanan dapat mengidentifikasi potensi risiko sejak tahap pengembangan aplikasi.
Prioritaskan Kerentanan yang Paling Berisiko
AWS juga memperkenalkan Continuum for Code Vulnerabilities, layanan yang membantu tim keamanan menangani backlog kerentanan aplikasi yang terus bertambah.Layanan tersebut bekerja dengan mengimpor seluruh backlog insiden keamanan yang telah dimiliki perusahaan, kemudian melakukan pemindaian ulang terhadap lingkungan aplikasi untuk menemukan kerentanan tambahan beserta jalur serangan (attack path) yang mungkin dimanfaatkan penyerang.
Selanjutnya, AI akan mengevaluasi setiap temuan menggunakan konteks bisnis untuk menentukan prioritas, memvalidasi kerentanan guna mengurangi false positive, serta memberikan rekomendasi mitigasi dan perbaikan (remediation) secara otomatis.
Bisa Dimulai dengan Persetujuan Manusia
AWS menyadari bahwa proses otomatisasi keamanan tetap membutuhkan kepercayaan dari pengguna.Karena itu, Continuum menyediakan Learn Mode, yaitu mode yang memungkinkan seluruh rekomendasi AI ditinjau terlebih dahulu oleh tim keamanan sebelum dijalankan.
Setelah organisasi merasa lebih yakin terhadap hasil yang diberikan AI, perusahaan dapat beralih ke Enforce Mode, yang memungkinkan proses mitigasi dan perbaikan dilakukan secara otomatis.
Nandini menegaskan bahwa tujuan utama AWS Continuum bukan menggantikan peran tim keamanan, melainkan membantu mereka bekerja lebih cepat di tengah meningkatnya jumlah kerentanan yang harus ditangani.
"Continuum belajar, melindungi, dan membantu Anda menghadirkan inovasi bisnis dengan aman untuk mewujudkan tujuan dan aspirasi perusahaan," ujar Nandini.
Menurut AWS, AI agent akan menjadi bagian penting dalam pengembangan perangkat lunak modern. Karena itu, perusahaan menilai keamanan juga harus berevolusi agar mampu mengikuti kecepatan pengembangan aplikasi berbasis AI tanpa mengorbankan perlindungan terhadap data dan sistem perusahaan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda