Ilustrasi: ManageEngine
Ilustrasi: ManageEngine

Kesiapan Digital Indonesia Terkendala Fragmentasi IT dan Keamanan Siber

Mohamad Mamduh • 13 Februari 2026 16:42
Ringkasnya gini..
  • Banyak organisasi menggunakan alat berbeda sehingga gambaran kondisi sistem secara menyeluruh sering kali tidak terlihat.
  • Data nasional juga menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada tahun 2024.
  • Menatap 2026, fokus strategis para pemimpin di Indonesia perlu bergeser dari ekspansi menuju konsolidasi.
Jakarta: Transformasi digital di Indonesia telah mencapai tahap yang berbeda dan sistem digital kini menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi, layanan publik, dan operasional perusahaan di tingkat nasional.
 
Perubahan paling signifikan adalah tingkat ketergantungan yang semakin mendalam, yang membuat risiko yang muncul bukan lagi sekadar ancaman siber, melainkan persoalan nyata yang berdampak pada keberlanjutan dan daya saing. Ketergantungan ini terbukti dari proyeksi nilai ekonomi digital Indonesia yang mendekati USD100 miliar pada tahun 2025, terbesar di Asia Tenggara, dengan e-commerce sebagai kontributor utama.
 
Data nasional juga menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada tahun 2024. Dengan kondisi ini, gangguan sistem atau kebocoran data berpotensi menimbulkan dampak ekonomi dan sosial yang luas.

Namun, laju adopsi digital belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan pengelolaannya. Sejumlah kajian internasional mencatat bahwa pengelolaan digital masih terfragmentasi, kapasitas keamanan siber belum merata, dan koordinasi antar lembaga masih terbatas.
 
Situasi ini diperparah dengan tren peningkatan insiden siber yang menyasar sistem sektor publik maupun swasta, yang semakin menekan organisasi dengan keterbatasan visibilitas keamanan dan kemampuan respons. Salah satu tantangan yang paling terasa menjelang 2026 adalah sistem pemantauan IT dan keamanan yang masih terpisah-pisah.
 
Banyak organisasi menggunakan alat berbeda sehingga gambaran kondisi sistem secara menyeluruh sering kali tidak terlihat, yang pada akhirnya memperlambat penanganan insiden dan memperpanjang downtime.
 
Selain itu, pengelolaan identitas dan akses menjadi titik lemah krusial. Adopsi cloud, integrasi pihak ketiga, dan pola kerja hybrid memperbanyak titik akses, namun ketiadaan pengawasan identitas terpusat berisiko meningkatkan penyalahgunaan atau kebocoran data.
 
Di sisi anggaran, belanja teknologi digital yang terus meningkat seringkali tidak optimal akibat tumpang tindih fungsi dan platform yang kurang dimanfaatkan, yang berujung pada biaya tinggi tanpa peningkatan ketahanan yang sepadan. Berbagai celah ini kini mulai berdampak langsung pada bisnis, mulai dari risiko gangguan layanan yang semakin besar hingga insiden keamanan yang dapat memengaruhi reputasi.
 
Menatap 2026, fokus strategis para pemimpin di Indonesia perlu bergeser dari ekspansi menuju konsolidasi. Penyatuan fungsi operasional IT dan keamanan siber dalam satu pandangan operasional akan memungkinkan deteksi yang lebih cepat, tanggung jawab yang lebih jelas, serta penerapan kebijakan yang lebih konsisten. Pendekatan pengelolaan ancaman yang proaktif, didukung pemantauan berkelanjutan dan otomatisasi, menjadi semakin penting karena model respons reaktif tidak lagi memadai.
 
Dalam konteks ini, platform IT dan keamanan yang terintegrasi, seperti yang ditawarkan oleh ManageEngine, dapat menjadi pendukung utama untuk mengurangi kompleksitas penggunaan banyak alat. Menunda pembenahan struktural berisiko memperbesar kerentanan, sehingga bertindak sekarang menjadi kunci untuk memastikan fondasi digital Indonesia benar-benar aman dan siap digunakan untuk menopang fase pertumbuhan berikutnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA