Jakarta: Di balik gelombang adopsi AI yang masif, muncul pertanyaan mendasar: apakah perusahaan di Indonesia benar-benar siap? Survei terbaru yang dilakukan oleh Synology memberikan gambaran mengenai kesenjangan antara antusiasme adopsi AI dengan kesiapan infrastruktur dan tata kelola perusahaan.
Hasil survei menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya AI di kalangan pelaku bisnis Indonesia sangatlah tinggi. Sebanyak 94% perusahaan menilai bahwa infrastruktur data yang siap untuk AI sangat penting guna meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.
Bahkan, 50% di antaranya menganggap hal tersebut sebagai prioritas yang sangat krusial. Menariknya, tidak ada satu pun responden yang menganggap infrastruktur siap-AI sebagai sesuatu yang tidak penting.
"Jadi pertanyaan bukan lagi perlu AI apa enggak? Bukan, ya. Tapi bagaimana caranya mengadopsi AI dengan baik dan tepat untuk melindungi data perusahaan, investasinya tidak berlebihan, dan manfaatnya lebih nyata untuk produktivitas perusahaan," ungkap Clara Hsu, Country Manager Synology Indonesia, dalam acara Synology Annual Press Event 2026 di Jakarta, Selasa 13 Oktober 2026.
Dorongan utama di balik antusiasme ini adalah kebutuhan untuk memangkas beban kerja manual yang repetitif. Data menunjukkan bahwa 81% karyawan di Indonesia menghabiskan lebih dari dua jam setiap harinya untuk pekerjaan manual terkait dokumen, dan 36% di antaranya bahkan menghabiskan lebih dari lima jam. AI dipandang sebagai solusi untuk mengotomatisasi alur kerja tersebut.
Namun, di balik optimisme tersebut, terdapat tantangan besar yang sering terabaikan. Perusahaan menghadapi hambatan utama berupa kekhawatiran akan keamanan dan privasi data, biaya implementasi yang tinggi, serta kurangnya keahlian internal. Yang lebih mengkhawatirkan adalah minimnya tata kelola penggunaan AI di lingkungan kerja.
Survei mengungkapkan bahwa hanya satu dari sepuluh perusahaan yang merasa sepenuhnya yakin dapat mengeluarkan catatan lengkap mengenai aktivitas AI mereka. Lebih dari 80% perusahaan bahkan belum menerapkan kontrol atau kebijakan resmi atas penggunaan AI oleh karyawan mereka. Tanpa visibilitas dan kontrol yang memadai, informasi bisnis yang bersifat sensitif berisiko tinggi bocor ke layanan AI pihak ketiga tanpa sepengetahuan tim IT.
Kondisi ini menegaskan bahwa adopsi AI di Indonesia saat ini cenderung terburu-buru tanpa dibarengi dengan fondasi yang kokoh. Perusahaan sering kali terjebak pada keinginan untuk segera memasang aplikasi AI, namun melupakan bahwa seluruh lingkungan data mereka juga harus ikut berkembang.
"Adopsi AI ini sebaiknya terarah, bukan terburu-buru. Mulai dari kebutuhan bisnis yang jelas, pastikan kendali atas data tetap di tangan perusahaan baru tingkatkan investasi secara bertahap sesuai dengan kebutuhan nyata masing-masing perusahaan," ujar Clara.
Synology menekankan bahwa strategi AI yang terbaik bukanlah yang paling rumit. Hal yang paling penting adalah penerapan yang praktis dan mudah dikelola. Perusahaan perlu menemukan keseimbangan antara keamanan data, investasi yang terkendali, dan penggunaan yang praktis.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan