Singapura: Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur komputasi tidak lagi sebatas proyek percontohan (pilot project). Ia telah menjadi pendorong utama transformasi model bisnis di berbagai industri strategis. Fenomena ini mengemuka dalam sesi fireside chat di ajang IBM Think Singapore 2026 yang menghadirkan jajaran pemimpin teknologi, sektor pertahanan, dan layanan kesehatan regional.
Dipandu oleh Hans Dekkers, General Manager IBM Asia Pacific, diskusi tersebut mengupas tiga pilar utama teknologi IBM saat ini: Hybrid Cloud, AI untuk enterprise dan pemerintah, serta Quantum Computing. Dekkers menegaskan bahwa IBM memfokuskan diri pada solusi terintegrasi yang memberikan kebebasan penuh bagi organisasi dalam mengelola data dan beban kerja komputasi mereka.
Sesi ini turut menghadirkan S Jinghua Guo, Commander SAF C4 & Chief Information Officer, Digital and Intelligence Service Singapura; Jesse Chao, Head of AI & Quantum Computing, Chairman's Office, Foxconn/VisionBank; serta Dr. Jimmy Goh, Senior Consultant, Department of Emergency Medicine, Changi General Hospital.
Seiring pesatnya adopsi AI, isu kedaulatan data kini menjadi prioritas utama bagi entitas bisnis dan pemerintah di Asia-Pasifik. Hans menjelaskan bahwa meskipun model bahasa besar (LLM) global memiliki peran penting, masa depan adopsi enterprise akan didominasi oleh ribuan model bahasa skala kecil (Small Language Models) yang dimiliki dan dikontrol penuh oleh klien.
Merespons kebutuhan ini, Foxconn melalui anak perusahaannya, VisionBank, mengumumkan kemitraan strategis dengan IBM untuk membangun pusat data dan infrastruktur Sovereign AI di Asia-Pasifik. Jesse Chao mengungkapkan bahwa kedaulatan AI tidak hanya mencakup penyimpanan data lokal, tetapi juga mencakup seluruh rantai pasok pusat data hingga kepemilikan model.
Chao menegaskan adanya tren besar di mana negara dan enterprise ingin memiliki kontrol penuh atas data dan model mereka sendiri. Kemitraan dengan IBM memungkinkan penyediaan infrastruktur lokal berbasis open source yang terkendali, dengan sektor layanan keuangan, telekomunikasi, dan pertahanan diproyeksikan menjadi pengadopsi awal.
Pilar teknologi lain yang menjadi sorotan adalah komputasi kuantum. IBM memproyeksikan bahwa teknologi kuantum telah beralih dari masalah teori ilmiah menjadi tantangan rekayasa (engineering challenge) yang siap memberikan dampak komersial nyata dalam kurun waktu dua hingga empat tahun ke depan.
Sektor pertahanan menjadi salah satu domain utama pemanfaatan komputasi kuantum. Jinghua Guo memaparkan bagaimana komputasi kuantum sangat unggul dalam memodelkan masalah probabilitas dan optimasi logistik militer yang sangat rumit. Guo menjelaskan bahwa setiap kali satu lokasi operasi baru ditambahkan, kalkulasi logistik meningkat secara eksponensial. Komputer klasik memiliki batas fisik saat menghadapi jutaan permutasi rute, tetapi komputasi kuantum membuatnya jauh lebih terjangkau dan efisien.
Di sisi lain, perkembangan pesat komputasi kuantum membawa tantangan serius terhadap keamanan siber global. Muncul kekhawatiran mengenai fenomena Q-Day, yaitu titik waktu sebelum tahun 2030 ketika komputer kuantum mampu mematahkan standar enkripsi klasik yang digunakan saat ini.
Untuk memitigasi risiko tersebut, Pemerintah Singapura melalui Infocomm Media Development Authority (IMDA) meluncurkan National Quantum Safe Network (NQSN) bekerja sama dengan penyedia layanan seperti Singtel dan ST Engineering. Langkah ini bertujuan menyediakan fasilitas uji coba kriptografi aman-kuantum bagi industri. IBM sendiri telah menerapkan enkripsi aman-kuantum pada sistem penyimpanan data enterprise terbarunya guna memastikan data yang disimpan hari ini tetap terlindungi di masa depan.
Pada sektor kesehatan, Changi General Hospital (CGH) berkolaborasi dengan SingHealth Academy memanfaatkan platform simulasi berbasis Mixed Reality dan AI untuk melatih tim medis gawat darurat. Dr. Jimmy Goh menjelaskan bahwa AI digunakan untuk menganalisis komunikasi tim, efisiensi alur kerja, dan koordinasi saat penanganan krisis medis. Kendati demikian, Dr. Goh menegaskan batasan etis yang sangat ketat terkait penggunaan AI dalam dunia medis.
Ia menyatakan bahwa keputusan manusia selalu menjadi yang utama, dan keputusan medis akhir tetap wajib 100 persen berada di tangan dokter atau perawat. AI difungsikan untuk mengoptimalkan efisiensi berpikir, bukan menggantikan pertimbangan klinis manusia. Prinsip akuntabilitas manusia (human-in-the-loop) ini juga disepakati oleh S Jinghua Guo dalam operasi pertahanan. Menurutnya, untuk kasus penggunaan berrisiko tinggi seperti aksi kinetik militer, kontrol dan tanggung jawab manusia secara langsung bersifat mutlak.
Isu krusial lainnya yang dibahas adalah besarnya konsumsi energi pada pusat data AI. Jesse Chao menjelaskan bahwa integrasi antara AI dan komputasi kuantum dapat menjadi kunci dalam mengatasi krisis energi pusat data. Saat ini, Foxconn bersama IBM tengah mengeksplorasi penggunaan algoritma kuantum untuk mengoptimalkan proses pre-training model AI.
Langkah ini diharapkan dapat memangkas durasi pemrosesan serta menekan konsumsi daya secara signifikan, selain dimanfaatkan untuk riset ilmu material (material sciences) dan genomik.
Mengakhiri sesi, Hans Dekkers menyampaikan bahwa konvergensi antara komputasi klasik, AI, dan komputasi kuantum akan menjadi fondasi utama ekosistem IT enterprise di masa depan. Kunci keberhasilan adopsi teknologi ini terletak pada kombinasi antara fleksibilitas infrastruktur hybrid cloud, kedaulatan data lokal, serta tata kelola AI berbasis akuntabilitas manusia yang kuat.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan