Ilustrasi air purifier.
Ilustrasi air purifier.

Debu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Menyebar, Ini Cara Memilih Air Purifier yang Tepat

Cahyandaru Kuncorojati • 06 September 2026 07:47
Ringkasnya gini..
  • Air purifier dapat membantu menyaring partikel abu vulkanik di dalam rumah, tetapi bukan pengganti masker dan arahan keselamatan.
  • Pilih air purifier dengan filtrasi partikulat kuat, CADR sesuai ukuran ruangan, dan hindari perangkat penghasil ozon.
  • Saat hujan abu, tutup pintu dan jendela, gunakan air purifier, dan pakai respirator N95 ketika harus keluar atau membersihkan abu.
Jakarta: Hujan abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau dilaporkan mencapai tiga kecamatan di Kabupaten Tanggamus, Lampung, pada 5 September 2026. Abu terbawa hingga permukiman, sekolah, dan tempat ibadah, sementara jarak pandang di sejumlah lokasi disebut turun hingga sekitar 300 meter. 

Dalam kondisi seperti ini, air purifier bisa menjadi lapisan perlindungan tambahan di dalam rumah, terutama untuk menyaring partikel yang masih melayang di udara.

BPBD Tanggamus meminta warga membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama anak-anak, serta menggunakan masker ketika memang harus keluar rumah. Pemerintah daerah juga telah menyalurkan masker dan menyediakan posko kesehatan di wilayah terdampak.

Lalu, seberapa berguna air purifier ketika abu vulkanik masuk ke lingkungan tempat tinggal?
 

Apa Fungsi Air Purifier Saat Terjadi Hujan Abu?

Air purifier bekerja dengan menarik udara melewati media penyaring untuk menangkap partikel tertentu. 

Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), portable air cleaner dapat membantu mengurangi partikel di udara ketika terjadi paparan abu vulkanik. Namun, efektivitasnya sangat dipengaruhi ukuran perangkat dan kemampuan penyaringannya.

Artinya, air purifier bukan alat untuk “menghilangkan” seluruh dampak erupsi. Perangkat ini lebih tepat diposisikan sebagai penyaring udara dalam ruangan, sementara sumber abu tetap harus dibatasi agar tidak terus masuk ke rumah.

Dalam kondisi abu vulkanik, menutup pintu dan jendela tetap menjadi langkah utama. EPA juga menyarankan sistem pendingin ruangan yang memiliki opsi tersebut digunakan dalam mode resirkulasi agar tidak terus menarik udara luar ke dalam rumah.

Berikut ada beberapa hal yang perlu dicek sebelum membeli air purifier.
 

1. Utamakan filter HEPA atau penyaring partikulat berkemampuan tinggi

Untuk menghadapi abu vulkanik, fokus utama sebaiknya ada pada filtrasi partikel, bukan sekadar fitur tambahan seperti ionizer atau penghilang bau.

EPA menyebut air purifier dengan filter HEPA sebagai salah satu opsi untuk mengurangi partikel di udara. HEPA secara teoritis mampu menyaring setidaknya 99,97 persen partikel berukuran 0,3 mikron dalam kondisi pengujian tertentu.
 

2. Jangan hanya melihat angka “luas cakupan”, cek CADR

Ukuran ruangan menjadi faktor yang sangat penting. EPA merekomendasikan memilih perangkat dengan Clean Air Delivery Rate (CADR) yang sesuai dengan area tempat perangkat digunakan. Semakin tinggi CADR, semakin banyak udara berpartikel yang dapat disaring dalam waktu tertentu.

Untuk kondisi abu, EPA dalam panduannya menyarankan perangkat yang mampu menyaring kira-kira dua hingga tiga kali volume udara ruangan setiap jamnya.

Jadi, air purifier kecil tidak otomatis cukup hanya karena menggunakan HEPA. Ruangan besar membutuhkan perangkat dengan kemampuan aliran udara yang memadai.
 

3. Perhatikan filter karbon, tetapi jangan salah fungsi

Filter activated carbon dapat berguna untuk menyerap sejumlah gas dan bau. Namun, karbon aktif bukan pengganti filter partikulat. 

EPA menjelaskan bahwa sebagian besar air purifier dirancang untuk menangani partikel atau gas, sehingga perangkat yang ingin menangani keduanya biasanya menggunakan kombinasi filter. Untuk konteks abu vulkanik, prioritas utamanya tetap filtrasi partikulat.
 

4. Hindari perangkat yang menghasilkan ozon

Jangan terpancing fitur yang terdengar seperti “pemurnian ekstra” tetapi justru menghasilkan ozon. EPA menyarankan menghindari air purifier pembangkit ozon karena ozon dapat menjadi polutan udara di dalam ruangan.

Selain spesifikasi awal, kondisi filter juga perlu diperhatikan. Filter yang sudah kotor dan terlalu penuh dapat bekerja kurang efektif, sehingga perawatan dan penggantian filter sesuai petunjuk produsen tetap penting.
 

Air Purifier Tidak Menggantikan Masker

Ada satu batasan penting. Air purifier hanya membantu kualitas udara di dalam ruangan, bukan melindungi pengguna ketika beraktivitas di luar atau ketika membersihkan abu yang sudah mengendap.

CDC merekomendasikan respirator N95 yang disetujui NIOSH ketika berada di luar atau saat membersihkan abu vulkanik yang masuk ke rumah. Paparan abu dapat mengganggu saluran pernapasan dan berisiko lebih besar bagi orang dengan kondisi pernapasan tertentu.

Karena itu, kombinasi yang lebih masuk akal saat hujan abu adalah menjaga rumah tetap tertutup, menggunakan air purifier dengan filtrasi partikulat yang sesuai, dan memakai perlindungan pernapasan ketika harus berada di luar.

Untuk kondisi Gunung Anak Krakatau yang masih aktif, warga tetap perlu mengikuti arahan Badan Geologi/PVMBG, BMKG, BPBD, dan pemerintah daerah. Air purifier bisa membantu mengurangi partikel di dalam ruangan, tetapi bukan pengganti langkah keselamatan saat erupsi berlangsung.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA