Dalam pernyataan terbarunya, Nubia menegaskan bahwa peningkatan performa yang terdeteksi saat benchmark bukan bentuk manipulasi, melainkan representasi kemampuan asli perangkat.
Dikutip dari jawaban yang diterima oleh situs Android Authorit, Nubia menyatakan bahwa profil performa tinggi pada RedMagic 11 Pro justru menunjukkan transparansi terhadap kemampuan hardware.
“Kami tidak melihat profil performa ini sebagai sesuatu yang tidak etis. Justru ini adalah bentuk transparansi terhadap kemampuan sebenarnya dari hardware,” jelas Nubia.
Perusahaan juga menegaskan bahwa perangkatnya memang dirancang untuk menangani beban ekstrem, berkat kombinasi kipas internal dan sistem pendingin cair yang memungkinkan performa tinggi tetap stabil.
Nubia menambahkan bahwa performa maksimal tersebut tidak hanya muncul saat benchmark, tetapi juga bisa diakses langsung oleh pengguna.
“Dalam kondisi penggunaan nyata, performa ini bisa diaktifkan melalui fitur seperti Game Space dan mode khusus seperti Diablo Mode,” ujar Nubia. Dengan kata lain, pengguna memiliki kontrol untuk mengatur keseimbangan antara performa dan suhu sesuai kebutuhan.
Menurut Nubia, hasil benchmark yang tinggi hanya mencerminkan kondisi ketika seluruh fitur performa tersebut diaktifkan secara penuh.
Meskipun begitu pendekatan ini tetap menuai kritik. Masalah utama yang disorot adalah adanya indikasi perangkat mampu mengenali aplikasi benchmark dan secara otomatis mengaktifkan profil performa tertentu.
Hal ini membuat hasil pengujian dianggap tidak merepresentasikan penggunaan normal. Selain itu, dalam beberapa pengujian, perangkat dilaporkan mengalami suhu tinggi hingga harus menghentikan proses benchmark sebelum selesai.
Kasus ini kembali memunculkan perdebatan lama di industri smartphone, terutama untuk perangkat gaming.
Di satu sisi, produsen seperti Nubia menekankan performa maksimal sebagai nilai jual utama. Di sisi lain, lembaga benchmark seperti UL Solutions mengutamakan konsistensi dan representasi penggunaan nyata.
Perbedaan sudut pandang ini membuat batas antara optimasi performa dan manipulasi benchmark menjadi semakin kabur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News