Namun, informasi kenaikan harga yang pertama kali dilaporkan media Korea Selatan ini tersebut belum merupakan perubahan harga yang telah dikonfirmasi secara resmi oleh Samsung, sehingga angka dan waktu penerapannya masih dapat berubah mengikuti proses negosiasi dengan pelanggan.
Mengutip GSM Arena, rencana kenaikan harga muncul saat pasar memori global masih menghadapi tekanan pasokan serta meningkatnya permintaan dari industri kecerdasan buatan (AI). Kondisi tersebut membuat kapasitas produksi memori semakin banyak diarahkan ke produk dengan kebutuhan data center, termasuk High Bandwidth Memory (HBM) dan server DRAM.
Harga DRAM dan NAND Terus Meningkat
DRAM berfungsi sebagai memori kerja pada smartphone, sedangkan NAND flash digunakan sebagai media penyimpanan internal. Kedua komponen tersebut menjadi bagian penting dalam menentukan biaya produksi perangkat, khususnya smartphone dengan kapasitas RAM dan penyimpanan besar.Menurut data Omdia yang dikutip dalam laporan terkait, biaya gabungan RAM dan penyimpanan untuk smartphone dengan konfigurasi 8GB RAM dan 256GB storage meningkat tajam dalam setahun terakhir.
Biayanya tercatat sekitar USD35 (Rp617.365) pada kuartal III 2025, kemudian naik menjadi USD109 (Rp1,9 juta) pada kuartal I 2026 dan USD132 (Rp2,3 juta) pada kuartal II 2026. Omdia memperkirakan biaya tersebut mencapai USD140 (Rp2,46 juta) pada kuartal III 2026 dan meningkat menjadi USD144 (Rp2,5 juta) pada kuartal IV 2026.
Untuk konfigurasi lebih tinggi, yakni 12GB RAM dan 512GB storage, biaya gabungan diperkirakan mencapai USD202 (Rp3,56 juta) pada kuartal III dan USD206 (Rp3,6 juta) pada kuartal IV 2026. Angka tersebut hanya mencakup komponen RAM dan penyimpanan, bukan keseluruhan biaya produksi smartphone.
Sementara itu pada kuartal II 2026, harga kontrak mobile DRAM meningkat tajam dan memberikan tekanan tambahan terhadap biaya produsen smartphone. Harga LPDDR5X pada periode tersebut diperkirakan meningkat 78% hingga 83% secara kuartalan.
Memasuki kuartal III 2026, kenaikan harga mobile DRAM diperkirakan lebih moderat, diperkirakan mengalami kenaikan sekitar 8% hingga 13% secara kuartalan. Meski demikian, pemasok masih mengalihkan sebagian kapasitas produksi ke kebutuhan server dan HBM sehingga kondisi pasokan untuk perangkat konsumen tetap mendapat tekanan.
Counterpoint Research juga memperkirakan harga mobile DRAM meningkat sekitar 10% secara kuartalan pada kuartal III 2026. Menurut lembaga riset tersebut, kenaikan harga memori telah meningkatkan biaya bill of materials (BoM) smartphone, terutama pada perangkat kelas bawah.
Produsen Smartphone Hadapi Tekanan Biaya
Jika rencana Samsung diterapkan, produsen smartphone perlu membayar lebih mahal untuk memperoleh DRAM dan NAND yang digunakan dalam perangkat mereka. Negosiasi disebut telah dimulai dengan sejumlah produsen smartphone asal Tiongkok.Apple juga disebut akan kembali masuk dalam pembahasan harga dengan Samsung pada kuartal IV 2026, atau periode Oktober hingga Desember. Samsung sendiri memiliki posisi unik karena bisnis semikonduktor dan bisnis perangkatnya berada dalam divisi berbeda.
Dengan demikian, kenaikan harga dari divisi DS juga dapat meningkatkan biaya komponen bagi divisi perangkat Samsung atau DX. Laporan tersebut juga menyebut Apple memiliki daya tawar besar dalam negosiasi memori karena volume pembeliannya.
Berdasarkan estimasi sejumlah analis, kebutuhan NAND Apple untuk smartphone disebut sekitar dua kali lipat dibandingkan Samsung dan tiga kali lipat dibandingkan dengan Xiaomi. Angka tersebut merupakan estimasi analis, bukan data pembelian resmi yang dipublikasikan perusahaan.
Di sisi lain, Samsung, SK hynix, dan Micron menghadapi permintaan tinggi terhadap memori untuk infrastruktur AI. Produk seperti HBM dan server DRAM memiliki permintaan kuat sehingga kapasitas produksi diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Perubahan prioritas produksi ini turut memperketat kondisi pasokan memori untuk smartphone. Dampaknya terhadap harga smartphone tidak serta-merta berarti kenaikan harga perangkat sebesar 7% hingga 10%.
Persentase tersebut merupakan kenaikan harga komponen memori yang dilaporkan, bukan kenaikan harga jual smartphone. Produsen masih memiliki sejumlah pilihan, seperti menyerap sebagian kenaikan biaya, mengubah konfigurasi RAM dan penyimpanan, melakukan negosiasi ulang dengan pemasok lain, atau meneruskan sebagian biaya kepada konsumen.
Sebelumnya, tingginya harga mobile DRAM dilaporkan telah mendorong produsen menyesuaikan konfigurasi memori. Pada segmen premium, konfigurasi 12GB menjadi lebih umum, sementara penggunaan 16GB menghadapi tekanan biaya. Di kelas menengah, 8GB tetap menjadi konfigurasi utama.
Tekanan Memori Diperkirakan Berlanjut
Tekanan harga memori tidak hanya terjadi pada DRAM. NAND flash juga mengalami kenaikan karena kebutuhan penyimpanan data dari pusat data AI terus berkembang. Kenaikan harga NAND pada kuartal III 2026 diperkirakan lebih rendah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, tetapi harga tetap berada pada level tinggi.Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perlambatan kenaikan harga belum berarti biaya komponen kembali ke tingkat sebelumnya. Bagi industri smartphone, situasi ini dapat menjadi tantangan terutama untuk perangkat dengan kapasitas RAM dan storage besar.
Produsen harus mempertimbangkan keseimbangan antara spesifikasi, biaya komponen, harga jual, serta permintaan pasar. Omdia memperkirakan harga memori masih berada pada level tinggi hingga setidaknya paruh pertama 2027.
Sementara itu, sejumlah lembaga riset juga melihat pengalihan kapasitas produksi menuju server dan aplikasi AI sebagai salah satu faktor struktural dalam pasar memori saat ini. Dengan demikian, rencana kenaikan harga DRAM dan NAND Samsung menjadi bagian dari tekanan biaya lebih luas di industri smartphone.
Namun, sejauh ini belum ada konfirmasi resmi bahwa Samsung telah menetapkan kenaikan 7% hingga 10% tersebut sebagai harga final untuk seluruh pelanggan.