Dalam Panel Energi St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026, Sechin menyoroti adanya kesenjangan yang signifikan antara valuasi teknologi tinggi dengan bukti nyata peningkatan produktivitas. Sechin membandingkan fenomena AI saat ini dengan ledakan industri perkeretaapian di masa lalu.
Meskipun modal investasi global mengalir deras ke perusahaan-perusahaan AI, manfaatnya terhadap produktivitas tenaga kerja belum sepenuhnya terbukti secara statistik. Ia merujuk pada paradoks Robert Solow yang mencatat bahwa meskipun sekitar 70% perusahaan telah mengadopsi AI, sebanyak 90% di antaranya tidak mengalami peningkatan produktivitas yang signifikan dalam tiga tahun terakhir.
Kondisi ekonomi global ini diperparah oleh tren militerisasi. Sebagian besar modal hanya berputar di tiga sektor utama, yaitu industri militer, perusahaan teknologi tinggi, dan sektor keuangan. Sechin bahkan memberikan catatan khusus terhadap Jerman yang dinilai telah mulai mengarahkan ekonominya menuju basis ekonomi perang.
Selain tantangan finansial, perkembangan AI membawa dampak nyata pada lonjakan kebutuhan listrik dunia yang sangat masif. Pusat data global saat ini mengonsumsi sekitar 500 TWh listrik per tahun dan diprediksi akan melonjak hingga 1.200 TWh pada 2035, sebuah angka yang setara dengan total konsumsi listrik Rusia saat ini. Sechin memperingatkan adanya kekurangan investasi kronis di sektor energi konvensional akibat ilusi transisi energi yang terlalu cepat, yang dapat mengancam stabilitas pasokan energi dunia.
Di Indonesia, adopsi AI menunjukkan tren yang pesat namun masih berada pada tahap awal transformasi. Data menunjukkan bahwa 92% pekerja terampil di Indonesia telah menggunakan AI generatif, melampaui rata-rata global sebesar 75%.
Dari sisi bisnis, sekitar 18 juta pelaku usaha atau 28% dari total bisnis telah mengadopsi AI pada 2025 dengan pertumbuhan tahunan mencapai 47%. Namun, mayoritas atau sekitar 76% bisnis di Indonesia masih menggunakan AI hanya untuk efisiensi dasar dan penyederhanaan proses, sementara hanya 10% yang telah melakukan integrasi transformatif untuk pengambilan keputusan dan model bisnis.
Tantangan infrastruktur digital ini juga berimplikasi pada ketahanan energi nasional Indonesia yang menargetkan peningkatan kapasitas pusat data dari 274 MW menjadi lebih dari 2.000 MW pada 2029. Hal tersebut sejalan dengan target RUPTL PLN 2025–2034 untuk menambah kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW guna menopang ekonomi digital.
Sechin menekankan bahwa bagi negara berkembang seperti Indonesia, pertumbuhan ekonomi digital tidak hanya membutuhkan talenta dan regulasi, tetapi juga sistem energi yang kuat dan investasi yang memadai untuk menjamin ketahanan nasional di tengah ketidakpastian global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News