Namun tren tersebut tampaknya mulai berubah pada 2026 dan diprediksi hingga jelang 2027.
Sejumlah bocoran terbaru yang dilaporkan situs GizmoChina mengindikasikan bahwa beberapa produsen smartphone justru akan memangkas spesifikasi perangkat entry-level mereka sebagai respons terhadap kenaikan harga komponen yang terus berlanjut.
Salah satu perubahan yang disebut bakal kembali muncul adalah penggunaan desain layar waterdrop notch, model poni tetesan air yang sempat mendominasi smartphone murah beberapa tahun lalu sebelum digantikan desain punch-hole yang lebih modern.
Smartphone Murah Diprediksi Alami Penurunan Spesifikasi
Menurut laporan yang mengutip informasi dari sumber industri, sejumlah sub-brand produsen smartphone besar sedang menyiapkan perangkat baru untuk segmen di bawah 1.000 yuan atau sekitar Rp2,2 jutaan.Alih-alih menghadirkan peningkatan spesifikasi, beberapa model justru disebut akan membawa konfigurasi yang lebih sederhana dibanding generasi sebelumnya.
Laporan tersebut menyebut smartphone murah generasi baru masih akan menggunakan layar LCD beresolusi Full HD, namun kembali mengadopsi desain waterdrop notch. Selain itu, konfigurasi memori dasar juga disebut turun menjadi RAM 6GB dan penyimpanan internal 128GB.
Jika informasi ini akurat, maka tren peningkatan spesifikasi yang selama ini terjadi di kelas entry-level berpotensi melambat dalam beberapa tahun ke depan.
Krisis Memori Jadi Penyebab Utama
Faktor terbesar di balik potensi penurunan spesifikasi tersebut adalah kenaikan harga chip memori yang terus berlangsung sejak akhir 2025.Firma riset pasar TrendForce sebelumnya melaporkan bahwa harga kontrak DRAM global meningkat lebih dari 40 persen selama dua kuartal berturut-turut, mulai kuartal keempat 2025 hingga kuartal pertama 2026.
Situasi serupa juga disorot oleh Counterpoint Research. Dalam laporannya, harga berbagai jenis memori seperti DRAM, NAND, dan HBM disebut melonjak hingga 80 persen sampai 90 persen secara kuartalan pada awal 2026 dan mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi tersebut membuat produsen smartphone menghadapi biaya produksi yang jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya.
RAM Besar Bisa Jadi Fitur Premium Lagi
Beberapa tahun lalu, RAM 8GB dan penyimpanan 256GB mulai menjadi standar baru pada banyak smartphone terjangkau. Bahkan tidak sedikit perangkat kelas menengah yang sudah menawarkan RAM 12GB sebagai konfigurasi dasar.Namun kenaikan harga memori membuat produsen harus menghitung ulang strategi produk mereka.
Jika tren harga komponen terus meningkat, kapasitas memori besar berpotensi kembali menjadi fitur yang hanya tersedia pada smartphone dengan harga lebih tinggi. Sementara perangkat entry-level kemungkinan akan kembali mengandalkan konfigurasi RAM dan penyimpanan yang lebih kecil untuk menjaga harga jual tetap kompetitif.
Laporan sebelumnya bahkan sempat menyebut bahwa RAM 16GB bisa menjadi lebih jarang ditemukan pada smartphone flagship mulai 2026, sementara RAM 4GB diprediksi kembali banyak digunakan di segmen bawah.
Konsumen Mungkin Perlu Bersiap
Pendiri Xiaomi, Lei Jun, sebelumnya juga sempat mengomentari lonjakan harga memori yang terjadi di industri teknologi. Ia menyebut kenaikan harga tersebut berlangsung sangat agresif dan berpotensi terus berlanjut hingga dua tahun ke depan.Menurutnya, kondisi pasar saat ini dapat berdampak langsung pada harga perangkat elektronik, termasuk smartphone.
Apabila harga chip memori tidak segera stabil, konsumen kemungkinan akan menghadapi dua pilihan. Pertama, membayar lebih mahal untuk mendapatkan kapasitas RAM dan penyimpanan yang sama seperti saat ini. Kedua, menerima spesifikasi yang lebih rendah pada smartphone dengan harga yang tetap terjangkau.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda