Google dan Facebook Salah Gunakan GDPR?
Google dan Facebook dilaporkan telah melakukan pelanggaran GDPR di wilayah Uni Eropa.
Jakarta: Kebijakan jaringan privasi baru di wilayah Uni Eropa, General Data Protection Regulation (GDPR), akan mulai diterapkan setelah beberapa tahun melalui proses diskusi beberapa hari lalu. Kini European Center for Digital Rights NOYB telah menangani kasus Facebook dan Google.

Badan pengawas tersebut menyebut kedua raksasa teknologi dan internet tersebut telah melanggar regulasi tersebut.

Pada laporan NOYB terbaru, lembaga non-profit menuduh kedua perusahaan terlibat dalam pemaksaan persetujuan, dengan mengadopsi pendekatan "take it or leave it".


Pendekatan ini memaksa konsumen untuk menyetujui persyaratan data atau kehilangan untuk mengakses layanan yang ditawarkannya.

NOYB merespons dengan pernyataan yang menyebut bahwa GDPR ditujukan untuk memberikan kebebasan dalam memilih kepada pengguna, untuk menyetujui atau tidak menyetujui penggunaan data.

NOYB juga menyebut bahwa kesan sebaliknya yang dihadirkan kepada pengguna, berupa kotak persetujuan muncul secara online atau dalam aplikasi, sering kali dikombinasikan dengan ancaman layanan tidak akan dapat digunakan kembali jika pengguna tidak menyetujuinya.

Selain itu NOYB turut mengungkap, pada hari pertama GDPR diterapkan, instansinya menerima empat keluhan untuk Google Android, Facebook, WhatsApp dan Instagram terkait dengan pemaksaan persetujuan.

Ketua instansi tersebut, Max Schrems, turut menjelaskan kemiripan antara tindakan Facebook dan proses pemilihan di Korea Utara.

Schrems menyebut Facebook bahkan memblokir akun pengguna yang tidak memberikan persetujuannya.

Pada akhirnya, pengguna hanya memiliki pilihan untuk menghapus akunnya atau menekan tombol "setuju", yang dinilai bukan sebagai kebebasan memilih dan mengingatkan pada proses pemilihan di Korea Utara.

Jika Uni Eropa menyepakati bahwa Facebook dan Google telah melakukan pelanggaran regulasi, kedua perusahaan berpeluang untuk menerima hukuman berupa denda.



(MMI)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.