Jakarta: Tingginya risiko gangguan konektivitas internasional akibat kabel bawah laut yang putus mendorong perlunya penambahan backbone baru di Indonesia agar konektivitas tidak hanya bergantung pada satu rute.
Chief Executive Officer PT Jala Lintas Media (JLM) Victor Irianto mengatakan, perbaikan kabel bawah laut yang putus umumnya memakan waktu hingga beberapa bulan. Penambahan jalur laut ini bertujuan untuk menghadirkan jaringan yang lebih stabil sebagai alternatif jika terjadi kendala.
“Perbaikan kabel laut yang putus itu membutuhkan waktu minimal satu sampai tiga bulan, sehingga menjadi langkah yang tepat untuk menghadirkan backbone sendiri,” ujar Victor dalam media briefing JLM INSIGHT Subsea Cable di Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.
Merespons kebutuhan tersebut, JLM mengoperasikan sistem kabel bawah laut bernama INSIGHT yang menghubungkan Jakarta, Batam, hingga Singapura. Jaringan sepanjang 1.123 kilometer ini, membentang dari Jakarta-Batam sepanjang 1.053 km, dan sisanya untuk rute Batam-Singapura dengan kapasitas hingga 30 Tbps.
GM Network Service Solution PT Jala Lintas Media (JLM) Radumalem Tarigan menjelaskan, Singapura dipilih sebagai titik hubung karena perannya sebagai salah satu gerbang utama internet internasional di kawasan ASEAN.
“INSIGHT Ini menjadi alternatif route buat Indonesia ke gerbang internasional salah satu hubnya ada di Singapura,” kata Radumalem.
Meski demikian, jalur baru ini tidak menyasar konsumen rumah tangga, melainkan segmen operator telekomunikasi, data center, cloud, hingga ISP.
Selain itu, perkembangan AI juga menjadi salah satu sektor pendukung meningkatnya konektivitas. Victor menjelaskan, porsi konektivitas dalam investasi ekosistem AI berada di kisaran 3 hingga 5 persen.
“Jadi kita mau memenuhi kebutuhan AI itu. INSIGHT ini kita berharap bisa menjadi bagian dari 5 persen ekosistem AI, di samping di ekosistem digital yang lain,” jelas Victor.
Radumalem menambahkan bahwa pemrosesan AI membutuhkan bandwidth yang sangat besar dan jalur internasional karena sebagian besar sumber data utama berada di luar negeri. Pada masalah ini, kabel jalur laut ini dapat berkolaborasi menghadapi tantangan AI di masa mendatang.
“AI itu butuh data yang banyak sekali, butuh bandwidth yang besar dan connectivity internasional karena source-nya bukan di Indonesia, source-nya ada di luar,” papar Radumalem.
Penambahan infrastruktur baru ini juga berkaitan dengan masa pakai sejumlah kabel laut yang sudah ada dan mulai mendekati masa end of life. Menurut Victor, kabel bawah laut yang sudah beroperasi lebih dari 15 sampai 20 tahun sudah mulai mengalami penurunan kinerja secara bertahap, salah satunya delay.
Penambahan jalur baru ini diharapkan dapat menjaga kapasitas jaringan tetap lancar di tengah kebutuhan data internet masyarakat kian meningkat seiring dengan perkembangan teknologi masa kini. (Syarifah Komalasari)
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan