Ilustrasi.
Ilustrasi.

Merek HP, dari Oppo hingga Xiaomi Kurangi Produksi Smartphone 2026

Cahyandaru Kuncorojati • 13 April 2026 09:20
Ringkasnya gini..
  • Oppo, Xiaomi, dan Vivo kurangi produksi akibat harga memori naik.
  • Penurunan riil diperkirakan sekitar 10%, bukan 20%.
  • Vendor kini fokus ke flagship untuk menjaga margin.
Jakarta: Sejumlah vendor besar asal China seperti Oppo, Vivo, Xiaomi, dan Transsion dilaporkan menyesuaikan target pengiriman smartphone pada 2026. 
 
Penyesuaian ini tidak lepas dari kenaikan harga komponen memori yang cukup signifikan di pasar global, khususnya DRAM dan storage, yang berdampak langsung pada biaya produksi perangkat.
 
Dalam laporan yang beredar di industri, dikutip dari situs HuaweiCentral, Xiaomi dan Oppo disebut memangkas proyeksi pengiriman hingga lebih dari 20%, sementara Vivo menurunkan target sekitar 15%. 

Di sisi lain, Transsion diperkirakan mengurangi volume pengiriman menjadi di bawah 70 juta unit untuk beberapa lini, meski secara total masih berpotensi mendekati angka tahun sebelumnya.
 
Sejumlah sumber internal industri menilai angka tersebut kemungkinan tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya. 
 
Praktik “overreporting” dalam proyeksi pengiriman disebut masih sering dilakukan vendor untuk mengamankan pasokan komponen dari pemasok utama. Karena itu, penurunan riil diperkirakan berada di kisaran sekitar 10% dibandingkan tahun lalu.
 
Strategi pengurangan ini juga tidak dilakukan secara merata di semua segmen. Vendor cenderung memangkas produksi di kelas menengah ke bawah serta beberapa pasar global tertentu, sementara fokus mulai dialihkan ke perangkat flagship. 
 
Segmen premium dinilai lebih mampu menjaga margin keuntungan di tengah tekanan biaya komponen yang meningkat.
 
Kenaikan harga memori menjadi faktor utama di balik perubahan strategi ini. Produsen besar seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron dilaporkan telah merencanakan kenaikan harga DRAM hingga 60–70% sejak kuartal pertama 2026. 
 
Kondisi ini memaksa vendor smartphone untuk lebih selektif dalam menentukan volume produksi sekaligus menjaga keseimbangan antara harga jual dan profitabilitas.
 
Di tengah situasi tersebut, tidak semua brand mengalami tekanan yang sama. Huawei, Honor, dan Lenovo disebut memiliki pendekatan berbeda dalam rantai pasok, sehingga relatif lebih fleksibel menghadapi kenaikan harga komponen. 
 
Huawei bahkan dikabarkan tengah mempertimbangkan strategi penyesuaian harga untuk meningkatkan daya saing produknya di pasar.
 
Langkah penyesuaian produksi ini mencerminkan dinamika baru di industri smartphone, di mana vendor tidak lagi hanya mengejar volume, tetapi juga mulai menitikberatkan efisiensi dan margin di tengah fluktuasi harga komponen global.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA