Berdasarkan Ericsson Mobility Report, 5G merupakan generasi konektivitas dengan adopsi tercepat di dunia. Jumlah pelanggan global diproyeksikan mencapai 2,9 miliar pada akhir 2025 dan melonjak hingga 6,4 miliar pada 2032. Tren ini sejalan dengan lonjakan trafik data seluler yang diperkirakan tumbuh lebih dari dua kali lipat dalam periode yang sama.
Di level domestik, potensi ekonomi dari teknologi ini sangat signifikan. GSMA memperkirakan investasi 5G dapat memberikan kontribusi hingga USD41 miliar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sepanjang periode 2024–2030.
Sektor-sektor strategis seperti manufaktur, logistik, energi, hingga layanan publik diharapkan dapat memanfaatkan jaringan berkecepatan tinggi dan berlatensi rendah ini untuk mengoptimalkan efisiensi serta produktivitas.
President Director Ericsson Indonesia Nora Wahby, menekankan bahwa jaringan 5G yang aman, tangguh, dan cerdas sangat mendesak untuk dikembangkan. Kebutuhan akan layanan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menuntut performa jaringan tinggi semakin memperkuat urgensi pembangunan infrastruktur tersebut.
"Teknologi ini akan mempercepat transformasi digital Indonesia melalui jaringan yang andal untuk mendukung aplikasi digital canggih serta teknologi baru di berbagai sektor industri," jelas Nora.
Meski memiliki potensi besar, tantangan tetap ada. Ronni Nurmal, Head of Government and Industry Relations Ericsson Indonesia, mengungkapkan bahwa adopsi AI dan 5G di Indonesia saat ini masih berada pada tahap awal jika dibandingkan dengan negara tetangga di Asia Tenggara. Namun, peluang untuk mengejar ketertinggalan tetap terbuka lebar melalui kebijakan spektrum yang tepat dan kolaborasi ekosistem yang kuat.
Saat ini, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah menyiapkan pelelangan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz. Ericsson menekankan bahwa kepastian regulasi, ketersediaan spektrum yang memadai, serta iklim investasi yang sehat adalah prasyarat utama agar implementasi 5G dapat berjalan berkelanjutan dan membawa Indonesia menuju masa depan digital yang inklusif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News