CEO NTT Ltd. Indonesia Hendra Lesmana.
CEO NTT Ltd. Indonesia Hendra Lesmana.

NTT: Mayoritas Perangkat Jaringan Dunia Sudah Ketinggalan Zaman

Teknologi teknologi
Lufthi Anggraeni • 08 Juli 2020 15:36
Jakarta: NTT merilis hasil riset terbaru terkait perangkat jaringan di dunia, bertajuk 2020 Global Network Insights Report. Dalam laporan ini, NTT menyebut bahwa saat memindahkan aplikasi ke lingkungan multi-cloud, investasi di cloud akan melampaui pengeluaran untuk infrastruktur.
 
Selain itu, laporan ini juga menyoroti bahwa saat ini terjadi peningkatan jumlah perangkat jaringan usang dan tidak diperbarui. Hal ini menyebabkan software menjadi rentan sehingga risiko terhadap ancaman keamanan informasi pada perangkat ini lebih besar.
 
“Dari 800 ribu perangkat yang kami survei ini, hampir separuhnya sudah ketinggalan zaman, artinya sudah tidak didukung lagi. Ini menimbulkan banyak kerentanan, jadi lebih gampang dibobol karena tidak dipatch untuk menghadapi serangan baru,” ujar CEO NTT Indonesia Hendra Lesmana.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebanyak 800 ribu perangkat jaringan dari 1.000 klien yang disurvei, NTT menemukan bahwa sebanyak 46,3 persen aset jaringan organisasi sudah menua atau usang. Angka ini juga dilaporkan NTT mewakili peningkatan signifikan yang terjadi pada tahun 2017, dengan angka sebelumnya hanya sebesar 4,3 persen.
 
Kerentanan perangkat ini disampaikan Hendra tergolong mengerikan, sebab dari perangkat yang telah usang tersebut mengalami serangan dua kali lebih banyak jika dibandingkan dengan perangkat yang masih terdukung.
 
Hal ini mengkhawatirkan terutama jika perangkat dimiliki oleh perusahaan berskala besar, sebab menjadi mata rantai lemah dan rentan dieksploitasi. Dari kliennya yang sudah mulai beralih ke cloud, NTT menemukan sebagian besar dari mereka cenderung melupakan perangkat jaringan yang belum beralih.
 
Perangkat ini disebut NTT tidak masuk ke dalam strategi besar perusahaan, sehingga menjadi rentan terhadap serangan dari luar. Karenanya, NTT mengimbau klien tersebut untuk juga memasukan perangkat non cloud ini ke dalam strategi secara keseluruhan perusahaan, mengingat perangkat masih dimanfaatkan dan dilalui data penting.
 
Selain itu, laporan NTT ini juga mencatat bahwa pengawasan secara proaktif dari perusahaan memungkinkan mereka untuk menyelesaikan permasalahan 10 persen lebih baik jika dibandingkan dengan perusahaan yang tidak menerapkan pengawasan pasif terhadap perangkat jaringan.
 
Secara spesifik, untuk wilayah Asia Pasifik, NTT mencatat bahwa hanya sebanyak 53,7 persen perangkat klien yang masih didukung oleh versi baru. Jumlah ini dilaporkan NTT menurun sebanyak 28,2 persen jika dibandingkan dengan laporan sebelumnya.
 
Demikian juga dengan Indonesia, dengan semakin banyak perangkat jaringan yang sudah tidak lagi didukung oleh pembaruan software. Terkait pandemik Covid-19, NTT menyadari bahwa semakin banyak masyarakat yang bekerja dari luar kantor.
 
Hal ini menyebabkan peningkatan pelayanan lalu lintas dari jaringan luar oleh perangkat jaringan, sehingga perangkat lebih terpapar oleh risiko, terutama jika perangkat jaringan sudah tidak menerima update.
 
Dengan demikian, penting bagi perusahaan untuk menjaga perangkat jaringan untuk tetap menggunakan versi paling baru. Hendra juga menjelaskan eksploitasi terhadap bug software menjadi salah satu bentuk serangan yang makin banyak terjadi pada perangkat jaringan, selain serangan via metode lama seperti terhadap password.
 
Dan selama pandemi, perangkat jaringan milik perusahaan teknologi tercatat menjadi sektor industri yang paling diincar. Namun, sektor healthcare juga turut menjadi ranah yang mulai diincar oleh pelaku kejahatan siber di masa pandemi ini.
 
Hendra menyebut hal ini mengingat terjadi peningkatan aktivitas pada perangkat jaringan institusi kesehatan akibat melonjaknya jumlah data pasien yang masuk ke dalam sistem jaringan institusi. Kesibukan institusi kesehatan ini juga dinilai menjadi faktor pendukung kelengahan mereka dalam memeriksa pemutakhiran perangkat jaringan, sehingga menjadi lebih rentan.
 
Hendra mengingatkan bahwa update software sebaiknya dilakukan setiap kali tersedia dari produsen perangkat. Sedangkan, umumnya perangkat jaringan setidaknya memiliki siklus hidup delapan hingga 10 tahun, artinya tidak ada pembaruan software setelah 10 tahun dibeli.
 
NTT juga berharap dengan laporan yang dirilisnya ini, baik klien maupun masyarakat umum menyadari pentingnya pembaruan software pada perangkat jaringan, terutama di tengah kondisi saat ini yang mengharuskan perangkat jaringan melayani lalu lintas dari luar.
 
(MMI)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif