Ilustrasi
Ilustrasi

Bukan Cuma AI Canggih, SDM Juga Perlu Belajar Demi 2026

Mohamad Mamduh • 07 Januari 2026 13:06
Jakarta: Di tengah perlombaan global menuju transformasi digital, banyak perusahaan kini menyadari bahwa hambatan terbesar mereka bukanlah kurangnya perangkat lunak canggih, melainkan kurangnya manusia yang mampu mengoperasikannya.
 
Laporan State of Observability 2025 dari ManageEngine mengungkap fakta mengejutkan: alih-alih membeli teknologi baru, strategi utama perusahaan teknologi tahun depan adalah kembali ke dasar, yaitu melatih karyawan mereka.
 
Survei yang melibatkan lebih dari 1.200 profesional TI ini menunjukkan bahwa kesenjangan keterampilan (skill/knowledge gap) telah menjadi penghalang adopsi teknologi terbesar kedua secara global, dirasakan oleh 47,5% organisasi, tepat di bawah masalah biaya.

Temuan ini menegaskan bahwa investasi besar-besaran pada alat observabilitas modern sering kali tidak membuahkan hasil maksimal karena tim internal tidak memiliki keahlian yang cukup untuk memanfaatkannya secara efektif.
 
Menghadapi realitas ini, para pemimpin TI mengubah strategi mereka secara drastis untuk tahun anggaran mendatang. Ketika ditanya mengenai rencana untuk meningkatkan nilai investasi observabilitas mereka di masa depan, jawaban nomor satu bukanlah membeli modul tambahan atau mengganti vendor.
 
Sebanyak 45,8% responden menyatakan bahwa prioritas utama mereka adalah melatih staf agar dapat menggunakan alat secara efektif. Angka ini mengungguli inisiatif teknis lainnya seperti konsolidasi alat (41%) atau integrasi dengan perangkat lunak lain (39,3%).
 
Tren peningkatan keterampilan (upskilling) ini bersifat universal. Baik organisasi yang masih dalam tahap pemantauan dasar maupun mereka yang sudah memiliki sistem observabilitas yang matang, sama-sama menempatkan pelatihan staf sebagai prioritas. Bahkan di sektor Solusi dan Layanan TI yang dikenal paling maju secara teknologi, perusahaan-perusahaan berencana melipatgandakan upaya untuk meningkatkan kemampuan tim mereka dalam menggunakan alat secara efektif.
 
Kekurangan talenta ini juga mempengaruhi bagaimana perusahaan memilih dan menggunakan fitur Kecerdasan Buatan (AI). Laporan tersebut menemukan korelasi langsung antara kesenjangan keterampilan dengan permintaan terhadap fitur otomatisasi.
 
Responden yang menghadapi kesenjangan keterampilan menunjukkan permintaan 1,5 kali lebih tinggi terhadap fitur AI/ML dibandingkan rekan mereka yang memiliki tim dengan skill lengkap. Secara spesifik, mereka sangat bergantung pada fitur Natural Language Querying (kueri bahasa alami). 
 
Fitur ini memungkinkan staf yang kurang berpengalaman untuk mencari data dan memecahkan masalah menggunakan bahasa sehari-hari, tanpa perlu mempelajari bahasa kode yang rumit. Popularitas fitur ini jauh lebih tinggi di kalangan tim dengan kesenjangan skill (46%) dibandingkan rata-rata.
 
Data tahun 2025 memberikan pesan yang jelas bagi para CIO dan manajer TI: membeli alat tercanggih di pasaran tidak lagi menjadi jaminan kesuksesan operasional. Tanpa strategi SDM yang kuat dan pelatihan berkelanjutan, teknologi observabilitas yang mahal sekalipun berisiko menjadi aset yang kurang dimanfaatkan (underutilized). Tahun depan adalah tahun di mana fokus teknologi kembali berpusat pada manusia yang mengendalikannya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan