Ilustrasi: AMD
Ilustrasi: AMD

Dorong Penerapan Agentic AI Melalui Ekosistem Terbuka dan Fleksibel

Mohamad Mamduh • 25 Agustus 2026 18:04
Ringkasnya gini..
  • Agentic AI didefinisikan sebagai bot mandiri yang dapat melintasi berbagai aplikasi atau layanan demi mencapai suatu tujuan.
  • AMD menyediakan Inference Microservices (AIMs) berbasis container untuk mengelola beban kerja inferensi AI pada GPU Instinct.
  • Pada akhirnya, perusahaan yang memprioritaskan agent yang mampu terhubung dengan alur kerja karyawan yang sudah ada akan memimpin di depan.
Jakarta: Jika sebelumnya AI hanya digunakan untuk proyek percontohan yang terisolasi seperti merangkum dokumen atau menyusun email, kini perusahaan mulai beralih ke tahap evaluasi yang lebih menuntut: agentic AI. Teknologi ini diharapkan mampu beroperasi secara mandiri di seluruh aktivitas inti bisnis, melampaui batas satu aplikasi saja.
 
Agentic AI didefinisikan sebagai bot mandiri yang dapat melintasi berbagai aplikasi atau layanan demi mencapai suatu tujuan. Berbeda dengan chatbot AI generatif biasa, sistem agentic dirancang untuk menggunakan alat software dan mengakses sumber data internal yang luas. Sumber daya ini mencakup catatan pelanggan, pustaka internal, sistem ticketing, repositori kode, hingga aplikasi bisnis.
 
Namun, transisi menuju agentic AI kerap menghadapi kendala besar, salah satunya adalah vendor lock-in. Solusi software eksklusif yang hanya kompatibel dengan sejumlah kecil aplikasi membuat integrasi vertikal yang awalnya mudah di awal, justru menjadi beban saat perusahaan ingin memperluas penggunaan AI mereka. Banyak agent saat ini masih terjebak dalam framework software tertentu dan kesulitan berinteraksi dengan aplikasi luar.

Menjawab tantangan tersebut, AMD menegaskan dukungannya terhadap ekosistem terbuka untuk mempercepat inovasi yang berkelanjutan. Melalui rangkaian solusi AI end-to-end yang komprehensif mulai dari FPGA embedded, CPU server EPYC, mobile workstation, hingga akselerator Instinc, AMD memberikan ruang bagi pelanggan untuk menyesuaikan beban kerja AI dengan kapasitas daya dan pendinginan di lingkungan masing-masing.
 
Fleksibilitas ini diperkuat oleh ROCm dan HIP yang mendukung framework standar industri seperti PyTorch, TensorFlow, dan ONNX Runtime. Dengan demikian, model AI dapat dievaluasi, dipindahkan, dan diterapkan di berbagai lingkungan tanpa perlu pelatihan ulang atau perubahan format yang rumit. Langkah ini memungkinkan organisasi merespons dinamika pasar dengan cepat tanpa menutup opsi strategis di masa depan.
 
Selain itu, AMD menyediakan Inference Microservices (AIMs) berbasis container untuk mengelola beban kerja inferensi AI pada GPU Instinct. Layanan ini menyederhanakan kompleksitas inferensi sekaligus memberikan jaminan layanan pada konfigurasi hardware tertentu.
 
Sebagai bagian dari Enterprise Reference Stack yang bersifat open source, AIMs dirancang agar terhubung dengan lingkungan perusahaan melalui mitra platform terbuka maupun tertutup seperti Red Hat, SUSE, Canonical, VMware, dan Nutanix.
 
Arsitektur terbuka ini sangat krusial agar agent dan konektor data dapat mengakses berbagai database, spreadsheet, serta produk SaaS tanpa hambatan. Seiring kematangan teknologi, manfaat penuh agentic AI hanya akan tercapai jika agent mampu mengakses multi-sumber data dan mengembalikan hasil dalam format yang dapat digunakan oleh software lain.
 
Pada akhirnya, perusahaan yang memprioritaskan agent yang mampu terhubung dengan alur kerja karyawan yang sudah ada akan memimpin di depan. Pendekatan ekosistem terbuka dari AMD menawarkan jalur strategis bagi perusahaan untuk meningkatkan skala AI secara menyeluruh tanpa mengorbankan kebebasan memilih software.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA