Cloudera Evolve 2026 Singapore
Cloudera Evolve 2026 Singapore

Ada Fenomena POC Purgatory, 80% Proyek AI Korporasi Justru Gagal di Awal

Mohamad Mamduh • 20 Agustus 2026 12:59
Ringkasnya gini..
  • Salah satu kekeliruan paling mendasar adalah kegagalan menyelaraskan teknologi dengan masalah bisnis yang dihadapi.
  • Banyak korporasi mengira mereka telah bertransformasi hanya dengan memborong ribuan lisensi asisten digital.
  • Rashidi mengingatkan para eksekutif untuk mengalihkan tolok ukur dari sekadar mengejar kecepatan efisiensi ke arah efektivitas keputusan bisnis.
Singapura: Diperkirakan sebanyak 74 hingga 88 persen proyek Proof of Concept (POC) AI di tingkat korporasi terhenti, dibatalkan, atau gagal melangkah ke tahap produksi.
 
Fenomena yang kerap dijuluki sebagai Perpetual POC Purgatory ini diungkapkan oleh praktisi data dan AI, Sol Rashidi, dalam paparannya di ajang Cloudera Evolve 2026 di Singapura. Mantan eksekutif data di IBM dan AWS tersebut menyoroti bahwa tahun 2026 menjadi fase krusial bagi perusahaan karena para pemimpin bisnis mulai menuntut Return on Investment (ROI) yang nyata setelah gelombang investasi besar-besaran pada 2024 dan 2025.
 
Menurut Rashidi, salah satu kekeliruan paling mendasar adalah kegagalan menyelaraskan teknologi dengan masalah bisnis yang dihadapi. Banyak organisasi terjebak dalam euforia menerapkan AI hanya demi tren semata (AI for the sake of AI).

“Selalu mulai dari masalah bisnis dan sesuaikan kompleksitas masalah tersebut dengan kompleksitas solusinya. Jangan melakukan AI demi AI,” tegas Rashidi.
 
Ia juga membedakan secara tegas antara menggunakan AI dan menjalankan AI. Banyak korporasi mengira mereka telah bertransformasi hanya dengan memborong ribuan lisensi asisten digital seperti Microsoft Copilot atau Google Gemini untuk membantu karyawan menulis email dan membuat ringkasan. Menurutnya, hal tersebut sekadar menggunakan AI, yang tidak mampu membenahi inefisiensi alur kerja yang mendasar.
 
Sebaliknya, Doing AI menuntut perombakan alur kerja, dekonstruksi tugas ke dalam sub-tugas, hingga integrasi agen AI pada rantai operasional. Langkah ini menyerupai proyek optimisasi proses bisnis (Business Process Optimization) atau migrasi sistem ERP yang membutuhkan pendanaan memadai, perencanaan matang, dan kesabaran.
 
Faktor lain yang menggagalkan proyek AI adalah alokasi perencanaan yang tidak proporsional. Rashidi mencatat sekitar 60 hingga 70 persen waktu proyek kerap tersedot hanya untuk urusan infrastruktur, pemilihan perkakas, dan penyetelan model. Akibatnya, porsi untuk tata kelola, keamanan data, dan kesiapan talenta pengguna akhir sering kali terabaikan.
 
Padahal, kesuksesan AI tidak diukur dari seberapa banyak POC yang dibuat atau besarnya biaya komputasi yang dihabiskan (token spend). Utamanya adalah utilisasi nyata oleh pengguna. Jika kapabilitas yang dibangun tidak digunakan dalam operasional sehari-hari, investasi bernilai jutaan dolar tersebut akan berakhir sia-sia.
 
Rashidi mengingatkan para eksekutif untuk mengalihkan tolok ukur dari sekadar mengejar kecepatan efisiensi ke arah efektivitas keputusan bisnis. Efisiensi semata tanpa tata kelola yang tepat berisiko membuat perusahaan mengambil keputusan yang keliru secara lebih cepat.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA