Paparan Neurowyzr di sela-sela ajang SWITCH 2026
Paparan Neurowyzr di sela-sela ajang SWITCH 2026

Ubah Gamifikasi Jadi Alat Medis, Skrining Otak Digital Berbasis AI

Mohamad Mamduh • 28 Oktober 2026 22:27
Ringkasnya gini..
  • Selama ini, pemeriksaan fungsi saraf di fasilitas kesehatan umumnya bergantung pada pemindaian mahal seperti MRI di rumah sakit.
  • Pasien tidak dapat mengakali atau menghafal pola tes, menjadikan alat ini ideal untuk pemantauan berkala tahunan.
  • Mengintegrasikan skrining kognitif ke dalam paket pemeriksaan kesehatan berkala (Medical Check-Up/MCU) tahunan di fasilitas layanan primer.
Singapura: Di sela-sela ajang Singapore Week of Innovation and Technology (SWITCH) 2026, startup asal Singapura, Neurowyzr, memamerkan terobosan Digital Brain Function Screen (DBFS). Platform ini memanfaatkan pendekatan gamifikasi teka-teki interaktif dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk mendeteksi potensi penurunan fungsi kognitif sejak dini tanpa memerlukan perangkat keras tambahan.

"Otak kita sebenarnya mencapai fungsi performa maksimal pada akhir usia 20-an, dan setelah itu fungsinya bisa mulai menurun," ujar Chief Executive Officer Neurowyzr, Pang Sze Yunn, di hadapan awak media. "Pada usia 30 tahun, sekitar 10 persen orang sudah mulai mengalami penurunan performa otak. Ketika seseorang mencapai usia 60 tahun, sebanyak 40 persen telah mengalami kemunduran fungsi otak tertentu."

Jika dibiarkan tanpa intervensi medis atau perubahan pola hidup, penurunan kognitif berpotensi berkembang menjadi penyakit neurodegeneratif maupun gangguan vaskular serius seperti demensia dan stroke.

"Kabar baiknya, penurunan fungsi otak sebenarnya bisa dicegah dan dipulihkan asalkan kita mampu mendeteksinya sedini mungkin sebelum berkembang menjadi kondisi klinis yang parah," papar Pang.
 

10 Teka-Teki Cuma dari HP

Selama ini, pemeriksaan fungsi saraf di fasilitas kesehatan umumnya bergantung pada pemindaian mahal seperti MRI di rumah sakit, tes manual pena dan kertas, atau aplikasi digital asing yang cenderung hanya menyasar deteksi demensia stadium lanjut. Neurowyzr hadir memosisikan diri sebagai solusi skrining berbasis perangkat lunak murni (software-only) yang dapat diakses langsung melalui ponsel pintar, tablet, maupun komputer jinjing.

Dalam pelaksanaannya, pasien hanya perlu memindai kode QR dan menyelesaikan serangkaian 10 permainan teka-teki digital selama sekitar 15 menit tanpa perlu memasang kabel atau elektroda sensor di kepala.

Permainan tersebut dirancang khusus untuk mengukur empat domain kognitif esensial: atensi (attention), memori langsung (immediate memory), memori kerja (working memory), serta fungsi eksekutif (executive function) yang mengatur analisis strategi dan pengambilan keputusan.

Pang menjelaskan bahwa atensi merupakan fondasi paling mendasar bagi seluruh performa kognitif. Fenomena rentang atensi generasi muda yang kian memendek hingga 5–10 detik akibat konsumsi konten video kilat di media sosial dinilai perlu diwaspadai, sebab gangguan konsentrasi berkepanjangan dapat berimbas langsung pada daya ingat dan kecakapan membuat keputusan.
 

Validasi Medis Tanpa Efek Belajar

Berbeda dari aplikasi game asah otak kasual yang umum ditemukan di toko aplikasi komersial, platform skrining Neurowyzr berstatus resmi sebagai alat kesehatan yang divalidasi melalui riset klinis mendalam. Platform ini telah mengantongi izin edar perangkat medis resmi di sembilan negara, termasuk Singapura, Amerika Serikat, Australia, Malaysia, Thailand, Vietnam, India, hingga Indonesia.

Keunggulan teknis lainnya terletak pada eliminasi efek belajar (learning effect). Pada tes manual pena dan kertas konvensional, lembar soal cenderung bersifat statis sehingga pasien berpotensi menghafal pola jawaban jika pengujian diulang. Sebaliknya, sistem digital Neurowyzr memuat ribuan variasi algoritma teka-teki.

Pasien tidak dapat mengakali atau menghafal pola tes, menjadikan alat ini ideal untuk pemantauan berkala tahunan guna melacak pergeseran garis dasar (baseline) kesehatan kognitif secara akurat.

Analisis AI dan Intervensi Gaya HidupSeluruh respons pengujian diproses secara langsung melalui infrastruktur komputasi awan (cloud) dan dievaluasi menggunakan algoritma kecerdasan buatan.

Segera setelah tes tuntas, laporan terperinci akan diterbitkan dan dikirimkan kepada dokter serta pasien. Laporan tersebut tidak langsung mendiagnosis penyakit, melainkan memetakan skor risiko penurunan kognitif secara terukur layaknya uji kadar gula darah untuk potensi diabetes.

Laporan berbasis AI tersebut juga menyertakan rekomendasi modifikasi gaya hidup yang dipersonalisasi. Pang memaparkan bahwa sekitar 40 persen risiko demensia dapat dicegah melalui koreksi pola hidup, mulai dari memperbaiki durasi tidur yang sering terabaikan, menghentikan konsumsi rokok dan alkohol, hingga mengendalikan penyakit kronis penyerta.
 

Masuk Paket MCU di Layanan Primer Indonesia

Mengusung model bisnis business-to-business-to-consumer (B2B2C), Neurowyzr berfokus mengintegrasikan skrining kognitif ke dalam paket pemeriksaan kesehatan berkala (Medical Check-Up/MCU) tahunan di fasilitas layanan primer. Pendekatan ini ditujukan untuk memangkas beban kerja dokter spesialis saraf yang jumlahnya masih sangat terbatas di Asia Tenggara.

Di pasar Indonesia, platform yang telah mendukung antarmuka Bahasa Indonesia ini telah diintegrasikan ke dalam ekosistem laboratorium diagnostik Prodia, Pramita Lab, dan paket pemeriksaan kesehatan di jaringan Rumah Sakit EMC.

Perusahaan rintisan yang didirikan bersama dokter bedah saraf Dr. Prem Pillay ini juga tengah menjajaki kolaborasi dengan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) demi memperluas akses deteksi dini kesehatan otak ke ranah layanan publik.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA