AI mengubah kebutuhan dunia kerja. Orang tua kini mulai mempertimbangkan strategi kampus dalam mengajarkan AI dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa..
AI mengubah kebutuhan dunia kerja. Orang tua kini mulai mempertimbangkan strategi kampus dalam mengajarkan AI dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa..

AI Ubah Dunia Kerja, Orang Tua Kini Pertimbangkan Strategi Kampus Hadapi Era Kecerdasan Buatan

Cahyandaru Kuncorojati • 03 Juni 2026 18:53
Ringkasnya gini..
  • 95% mahasiswa Indonesia telah menggunakan AI generatif dalam proses belajar menurut Global Student Survey 2025.
  • Orang tua mulai menjadikan strategi kampus menghadapi AI sebagai pertimbangan penting saat memilih perguruan tinggi.
  • BINUS University menghadirkan ekosistem AI dan transformasi digital untuk membekali mahasiswa menghadapi perubahan dunia kerja.
Jakarta: Kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence) semakin menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa Indonesia. Namun di balik tingginya adopsi teknologi tersebut, muncul kekhawatiran baru dari kalangan orang tua mengenai kemampuan generasi muda dalam berpikir kritis dan memecahkan masalah secara mandiri.
 
Fenomena tersebut mulai memengaruhi cara orang tua memilih perguruan tinggi. Tidak lagi hanya mempertimbangkan kualitas akademik atau fasilitas kampus, sebagian orang tua kini menilai bagaimana sebuah institusi pendidikan mempersiapkan mahasiswa menghadapi perubahan dunia kerja yang dipicu perkembangan AI.
 
Berdasarkan Global Student Survey 2025 yang dirilis Chegg, sebanyak 95 persen mahasiswa Indonesia telah menggunakan AI generatif dalam proses pembelajaran.

Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat adopsi AI generatif tertinggi di antara 15 negara yang disurvei secara global.
 
Tingginya penggunaan AI tersebut menghadirkan pertanyaan baru. Bagi sebagian orang tua, persoalannya bukan lagi apakah mahasiswa menggunakan AI atau tidak, melainkan bagaimana teknologi tersebut digunakan tanpa mengurangi kemampuan berpikir, menganalisis, dan mengambil keputusan secara mandiri.
 

Kekhawatiran Orang Tua Terhadap Ketergantungan AI

Sejumlah survei menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap dampak AI dalam pendidikan terus meningkat.
 
Survei EdChoice 2025 menemukan 65 persen orang tua menilai perguruan tinggi perlu secara aktif mengajarkan penggunaan AI yang bijak dan bertanggung jawab. Angka tersebut bahkan meningkat menjadi 79 persen pada kelompok orang tua yang menyekolahkan anaknya di institusi pendidikan swasta.
 
Temuan serupa muncul dalam survei Echelon Insights terhadap 1.511 orang tua. Sebanyak 56 persen responden meyakini anak mereka telah aktif menggunakan AI, namun menginginkan adanya pengawasan dan batasan yang jelas agar kemampuan analisis serta problem solving tetap berkembang. 
 
Sebanyak 79 persen orang tua juga mengaku ingin terlibat dalam pembahasan kebijakan penggunaan AI di lembaga pendidikan yang dipilih.
 
Kekhawatiran tersebut muncul karena AI mampu memberikan jawaban instan dalam hitungan detik. Jika digunakan tanpa pendampingan yang tepat, proses eksplorasi, analisis, dan penyelesaian masalah secara mandiri dikhawatirkan semakin berkurang.
 

Dunia Kerja Tak Hanya Mencari Pengguna AI

Perubahan yang dibawa AI juga mulai mengubah kebutuhan industri. Future of Jobs Report 2025 memproyeksikan sekitar 39 persen keterampilan inti pekerja akan berubah pada 2030. 
 
Dalam kondisi tersebut, kemampuan seperti pemecahan masalah, kreativitas, kolaborasi, dan adaptabilitas diperkirakan akan menjadi semakin penting di dunia kerja.
 
Artinya, perusahaan tidak hanya membutuhkan individu yang mampu menggunakan AI, tetapi juga mereka yang dapat memahami konteks, mengevaluasi hasil, serta mengambil keputusan berdasarkan analisis yang matang.
 
Perubahan kebutuhan industri inilah yang mendorong perguruan tinggi mulai mengembangkan pendekatan baru dalam pemanfaatan AI di lingkungan akademik.
 

BINUS Bangun Ekosistem AI dan Transformasi Digital

Merespons perubahan tersebut, BINUS University memperkenalkan Digital Transformation & AI Experience Ecosystem.
 
Pendekatan ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya menggunakan AI dalam kegiatan belajar, tetapi juga memahami cara kerja, manfaat, batasan, serta implikasi penggunaannya secara bertanggung jawab.
 
Rektor BINUS University, Dr. Nelly, S.Kom., M.M., CSCA., mengatakan perkembangan AI menuntut perguruan tinggi untuk tidak sekadar mengajarkan penggunaan teknologi.
 
"Memahami perkembangan AI saat ini, BINUS University berkomitmen mendampingi mahasiswa agar mampu memanfaatkan AI secara produktif tanpa kehilangan kemampuan berpikir, kreativitas, dan daya analitis mereka. Komitmen ini juga sudah kami wujudkan nyata dalam kurikulum, ekosistem digital, hingga pengalaman belajar sehari-hari," ujar Dr. Nelly.
 
Dalam implementasinya, mahasiswa dibiasakan menggunakan AI untuk mendukung proses riset, brainstorming, collaborative learning, hingga berbagai aktivitas akademik lainnya. 
 
Namun pada saat yang sama, mereka juga didorong untuk mengevaluasi, memvalidasi, dan memahami batasan teknologi tersebut.
 

Didukung Berbagai Platform Digital

Pendekatan tersebut didukung oleh sejumlah platform digital yang menjadi bagian dari ekosistem BINUS University. BINUSMAYA berperan sebagai Learning Management System (LMS) yang menghubungkan mahasiswa, dosen, dan berbagai layanan akademik dalam satu platform. 
 
Sementara CrowdBees digunakan sebagai wadah crowdsourcing inovasi yang mempertemukan mahasiswa, dosen, staf, dan alumni dalam berbagai proyek pengembangan ide.
 
BINUS juga menghadirkan Neksus sebagai platform yang menghubungkan perjalanan akademik mahasiswa dengan pengembangan karier mereka di masa depan. 
 
Selain itu, ekosistem digital kampus turut diperkuat oleh berbagai solusi lain seperti BINUS Support, Beelingua, Binusian Profile, Beemine, Lumobees, hingga teknologi berbasis Generative AI dan AI Liveness Detection & Face Comparison.
 
Meningkatnya penggunaan AI di dunia pendidikan menunjukkan bahwa teknologi tersebut akan menjadi bagian penting dari masa depan dunia kerja. Karena itu, pendekatan kampus terhadap AI kini mulai menjadi faktor baru yang diperhatikan oleh orang tua ketika memilih perguruan tinggi untuk anak mereka.
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA