FireEye: Korea Utara Jadi Ancaman Siber Terbesar untuk Dunia

Ellavie Ichlasa Amalia 08 Oktober 2018 12:11 WIB
cyber security
FireEye: Korea Utara Jadi Ancaman Siber Terbesar untuk Dunia
Korea Utara dianggap sebagai negara paling berbahaya saat ini.
Jakarta: Analisa perusahaan keamanan siber FireEye tentang grup hacker asal Korea Utara yang mereka namai APT38 adalah pengignat bahwa kemampuan siber dari negara tersebut tidak boleh diremehkan. 

Tahun lalu, The New York Times melaporkan bahwa Korea Utara memiliki lebih dari 6.000 hacker yang tidak hanya gigih, tapi juga kemampuannya terus berkembang.

APT38 adalah unit siber khusus yang bertugas untuk menyediakan uang untuk pemerintah. Mereka melakukan pencucian uang melalui berbagai aktivitas, seperti operasi judi yang beroperasi di setidaknya tiga negara. 


"Bisa dibilang, Korea Utara sekarang adalah ancaman terbesar untuk kebanyakan negara-negara di dunia," kata CEO FireEye, Kevin Mandia dalam Cyber Defense Summit yang diadakan di Washington DC, lapor ZDNet.

Sulit untuk membandingkan kemampuan siber Korea Utara dengan Rusia, Tiongkok atau negara-negara Five Eyes seperti Autralia, Kanada, Selandia Baru, Inggris dan Amerika Serikat.

Masing-masing negara memiliki keahliannya sendiri. Namun, Korea Utara lebih berbahaya karena perilaku mereka sulit untuk ditebak. 

Serangan siber yang dibuat oleh sebuah negara biasanya memiliki "batasan" untuk mencegah terjadinya kerusakan yang terlalu besar. Pembatasan itu bisa berupa tanggal kadaluarsa atau malware hanya akan aktif di lokasi tertentu.

Para hacker dari Tiongkok biasanya berusaha untuk meminimalisir kerusakan pada sistem target karena mereka ingin memastikan mereka mendapatkan akses jangka panjang ke sistem korban. 

Lain halnya dengan Korea Utara. 

"Korea Utara tidak hanya tidak memberikan pembatasan pada malware mereka. Sebuah backdoor yang sedang kami analisa memiliki enam pemeriksaaan yang berbeda ketika ia tengah diteliti," kata Mandia.

"Jika ia mendeteksi bahwa ia sedang diteliti, tidak peduli apakah proses ini dijalankan pada mesin virtual, atau jika debugger sedang dijalankan... maka hardware akan dihapus. Hancurkan semua. Siapa peduli? Bumi hanguskan semua. Itu bukan masalah."

Selain itu, Mandia menyebutkan, Korea Utara juga melibatkan diri dalam berbagai tindakan siber, mulai dari mata-mata, sabotase siber, kejahatan, dan operasi penyebaran disinformasi. 



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.