Sebaliknya, monitor gaming curved justru berkembang pesat. Bahkan, bentuk lengkung semakin umum ditemukan pada monitor ultrawide dan perangkat yang ditujukan untuk game simulator.
Kenapa teknologi yang sama bisa gagal di ruang keluarga, tetapi justru terasa masuk akal di meja gaming? Jawabannya ada pada jarak menonton, jumlah pengguna, hingga fungsi layar itu sendiri.
TV Curved Sulit Memberikan Efek Imersif
Masalah pertama adalah soal skala dan jarak. Layar melengkung memang bisa memberikan pengalaman imersif pada layar yang sangat besar dan digunakan dari jarak dekat, seperti di bioskop.Namun, situasinya berbeda ketika teknologi tersebut diterapkan pada TV 55-65 inci yang biasanya ditonton dari jarak sekitar 1,8 hingga 3 meter.
Lengkungan pada ukuran tersebut tidak cukup kuat untuk menghasilkan sensasi seperti layar bioskop. Pengaruhnya bahkan semakin kecil ketika TV berada di ruangan yang penuh dengan elemen lain seperti furnitur, dekorasi, dan sumber perhatian lainnya.
TV curved berukuran sangat besar memang bisa memberikan efek lebih terasa, tetapi perangkat seperti itu tidak pernah menjadi pilihan utama pasar.
Sudut Pandang Jadi Masalah Besar
Ada persoalan lain yang cukup mengganggu pada TV curved berbasis LCD: sweet spot.Posisi terbaik biasanya berada tepat di tengah layar. Begitu penonton bergeser cukup jauh dari titik tersebut, kualitas gambar dapat ikut berubah, terutama pada kontras dan saturasi warna.
Masalah ini menjadi lebih terasa ketika satu TV ditonton beberapa orang sekaligus. Penonton yang duduk di tengah mungkin mendapatkan pengalaman terbaik, sementara orang yang berada di sisi kiri atau kanan bisa melihat gambar dengan kualitas yang berbeda.
TV curved berbasis OLED tidak menghadapi persoalan sweet spot dengan cara yang sama, tetapi harga produksinya ketika teknologi ini populer juga cenderung lebih tinggi.
Membuat dan Mengirim TV Curved Tidak Mudah
Bentuk melengkung juga menambah tantangan di sisi produksi. Dipin Sehdev, pendiri sekaligus CEO CE Critic, mengatakan produsen mengalami kesulitan ketika harus membuat TV curved dalam ukuran besar secara massal, dikutip dari laporan Engadget.Masalahnya bukan sekadar mencetak panel melengkung. Produsen harus menjaga keseragaman panel, kemudian mengemas dan mengirim televisi berukuran 55, 65, hingga 75 inci tanpa membuat produk rusak atau bentuknya berubah.
Dari sisi konsumen, persoalan lain muncul ketika TV ingin dipasang di dinding. Bagian sudut layar yang menonjol membuat pemasangan menjadi lebih sulit dan mengurangi tampilan rapi yang justru dicari banyak pemilik TV layar tipis.
Monitor Gaming Curved Justru Punya Keunggulan
Kondisinya berubah ketika layar curved dipindahkan ke meja gaming. Monitor gaming biasanya digunakan satu orang dari jarak yang jauh lebih dekat. Artinya, posisi tepat di tengah yang menjadi masalah pada TV justru menjadi kondisi ideal pada monitor.Dari jarak dekat, lengkungan layar membantu bagian sisi kiri dan kanan tetap berada lebih dekat dengan garis pandang pengguna. Pemain tidak harus terlalu sering menggerakkan kepala untuk melihat ujung layar.
Dalam game kompetitif seperti FPS, hal tersebut bisa terasa relevan ketika informasi di sisi layar menjadi penting.
Makin Berguna untuk Monitor Ultrawide
Manfaat layar melengkung semakin terasa ketika ukuran layar melebar. Monitor ultrawide 34 inci, misalnya, akan jauh lebih sulit digunakan jika seluruh permukaannya datar karena bagian paling kiri dan kanan berada cukup jauh dari pusat pandangan.Karena itu, semakin lebar monitor, semakin masuk akal pula penggunaan kurva. Konsep ini juga mendorong lahirnya monitor berukuran ekstrem seperti Samsung Odyssey Ark.
Pada simulator, manfaatnya bahkan semakin jelas. Pemain racing dan flight simulator membutuhkan bidang pandang yang luas untuk meningkatkan sensasi berada di dalam kendaraan atau kokpit.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda