Ada dua startup teknologi asal Singapura yang mencoba menjawabnya. Mereka memamerkan terobosan teknologi sektor built environment dalam ajang Singapore Week of Innovation and Technology (SWITCH) 2026.
Mengurai Beban Panas Lewat Rekayasa Material
Co-Founder dan CEO Gush, Lester Leong, memaparkan bagaimana perusahaannya mengembangkan formula pelapis fungsional untuk permukaan terluar gedung agar bisa memantulkan dan menyekat panas matahari. Wilayah Asia Tenggara yang panas membutuhkan solusi pendinginan yang tidak hanya efektif, tetapi juga terjangkau dari sisi biaya konstruksi.Sebagai respons atas tingginya biaya tenaga kerja dan material, Gush meluncurkan seri Cool X. Cat ini memadatkan proses pengecatan dinding konvensional yang biasanya membutuhkan tiga lapis menjadi sistem satu lapis dengan sealer terintegrasi dan opasitas tinggi. Solusi ini diklaim mampu memangkas waktu kerja serta menurunkan temperatur dinding hingga sekitar 2 derajat Celsius.
Portofolio Gush juga mencakup kaca film transparan penolak 99 persen radiasi UV dan inframerah, formulasi pelapis atap logam yang telah diaplikasikan pada bus publik di Singapura guna menekan konsumsi bahan bakar pendingin kabin, serta cat interior bebas senyawa volatil (Zero-VOC) yang berfungsi memurnikan udara ruangan.
Tak hanya itu, Gush memperkenalkan Aero Cool X, pelapis cair yang mengintegrasikan material aerogel sintetis. Berbeda dengan cat penolak panas tradisional yang wajib berwarna putih atau terang, Aero Cool X tetap bekerja optimal pada warna gelap seperti abu-abu tua (dark grey). Karakter aerogel yang bertindak sebagai bantalan isolasi termal mampu menurunkan suhu bangunan hingga 4 derajat Celsius.
Dari teknologi ini, Gush ingin mencoba menekan jejak karbon dan tagihan energi pendingin secara berkelanjutan. Lester mengungkapkan bahwa lini produksi Gush saat ini berbasis di Johor, Malaysia, dengan pasar ekspor yang sudah mencakup Vietnam dan Malaysia, serta tahapan uji coba di Thailand. Gush kini secara terbuka mencari mitra distributor dan manufaktur kontrak untuk membawa teknologinya masuk ke pasar Indonesia.
CT Scan Beresolusi Milimeter untuk Tulang Beton
Keselamatan struktural gedung tua menjadi sorotan utama CEO dan Founder WaveScan Dr. Kush Agarwal. Menurutnya, industri inspeksi bangunan selama ini terjebak pada metode visual luar dan termografi inframerah yang hanya mendeteksi anomali di permukaan terluar. Padahal, ancaman keruntuhan gedung berakar dari korosi tulang baja internal, keretakan mikro, serta rongga udara yang tersembunyi jauh di dalam beton.Menjawab masalah tersebut, WaveScan memamerkan sistem pemindai tembus pandang pertama di dunia berskala milimeter yang telah mengantongi sertifikasi CE. Dikembangkan selama delapan tahun di Singapura, teknologi ini bekerja layaknya mesin rontgen atau CT Scan medis untuk infrastruktur.
Perangkat pemindai modular WaveScan dirancang fleksibel sehingga dapat dipasangkan pada robot pemanjat dinding untuk menyisir fasad gedung tinggi secara otomatis. Dilengkapi sensor LiDAR dan pemosisian spasial, data yang terkumpul digabungkan secara berlapis menjadi citra 3D presisi tinggi yang diselaraskan dengan cetak biru arsitektur bangunan.
Sistem analitik berbasis AI kemudian mengidentifikasi kondisi tulang baja, delaminasi, perembesan air, dan retakan internal dengan tingkat akurasi diklaim mencapai sekitar 90 persen. Data diagnostik ini memberikan dasar kuantitatif bagi para insinyur sipil untuk menentukan langkah perbaikan preventif sebelum terjadi kegagalan struktur.
Agarwal mengatakan WaveScan telah menggelar inspeksi berbasis layanannya di berbagai sektor perumahan, komersial, hingga fasilitas industri berat di sejumlah negara, termasuk Thailand. Dengan pesatnya pertumbuhan kawasan megapolitan serta pengetatan standar audit bangunan di negara-negara berkembang seperti Indonesia, kehadiran solusi diagnostik prediktif dan material hemat energi dinilai menjadi kunci transformasi kota pintar yang berdaya tahan tinggi di masa depan.