(tengah) Menkomdigi Meutya Hafid didampingi Dirjen Pengawasan Ruang Digital Alexander Sabar dan Dirjen Komunikasi Publik dan Media Fifi Aleyda Yahya dalam Konferensi Pers Progres Implementasi PP TUNAS di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta.
(tengah) Menkomdigi Meutya Hafid didampingi Dirjen Pengawasan Ruang Digital Alexander Sabar dan Dirjen Komunikasi Publik dan Media Fifi Aleyda Yahya dalam Konferensi Pers Progres Implementasi PP TUNAS di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta.

Lazada hingga Valorant Masuk Daftar Platform Berisiko Tinggi bagi Anak, Ini Penjelasan Komdigi

Cahyandaru Kuncorojati • 15 September 2026 23:01
Ringkasnya gini..
  • Lazada dan Valorant termasuk 22 PLF yang memiliki hasil verifikasi profil risiko tinggi.
  • Komdigi menilai pelindungan anak melalui self-assessment, verifikasi, dan penerapan fitur keamanan.
  • PSE masih diberi waktu memenuhi kewajiban PP TUNAS hingga 31 Desember 2026.
Jakarta: Lazada dan Valorant termasuk dalam daftar platform digital yang dinilai memiliki profil risiko tinggi bagi anak oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). 

Daftar tersebut muncul setelah pemerintah mengevaluasi pelaksanaan PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS) selama enam bulan.

Evaluasi ini tidak hanya menyasar media sosial atau layanan komunikasi. Sejumlah game dan platform yang banyak digunakan untuk hiburan digital juga masuk dalam penilaian. Di antaranya Valorant, Goddess of Victory: NIKKE, Age of Empires Mobile, Teamfight Tactics Mobile, serta Lazada dan sejumlah layanan digital lainnya.

Hal yang perlu dipahami, label “berprofil risiko tinggi” merupakan hasil proses penilaian terhadap Produk, Layanan, dan Fitur (PLF). 

Jadi, status tersebut tidak serta-merta berarti seluruh layanan dinilai berbahaya bagi anak, melainkan menunjukkan adanya tingkat risiko yang perlu mendapat pengawasan dan mekanisme pelindungan lebih kuat.
 

Lazada dan Valorant Sama-sama Masuk Kategori Risiko Tinggi

Hingga 6 September 2026, sebanyak 252 PLF dari 94 Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) telah menyelesaikan self-assessment. Komdigi kemudian melakukan verifikasi terhadap 60 PLF.

Hasil verifikasi tersebut menemukan 22 PLF dengan profil risiko tinggi dan 38 PLF dengan profil risiko rendah. Dari total 60 PLF itu, 42 sudah ditetapkan secara resmi, sedangkan 18 lainnya masih dalam proses penetapan.

Dari 22 PLF berprofil risiko tinggi, 14 sudah ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital. Daftarnya mencakup aplikasi dan situs web Lazada, Blibli, BMoney, Vidio, Hago, Pinterest, SnackVideo, X, Sola Mahjong, NIKKE, Age of Empires Mobile, Valorant, serta Teamfight Tactics Mobile.

Delapan PLF lain telah mendapatkan hasil verifikasi risiko tinggi, tetapi masih berada dalam proses penetapan. Kelompok ini mencakup Apple Podcasts, WeTV, MAXStream TV, Discord, Telegram Messenger, YouTube, Ludo World–Ludo Superstar, dan Crossfire: Legends.

Artinya, jumlah 22 tersebut terdiri dari layanan yang sudah ditetapkan dan layanan yang masih menunggu tahap administratif berikutnya.
 

Kenapa Game Seperti Valorant Ikut Dinilai?

Masuknya Valorant dan sejumlah game mobile menunjukkan bahwa upaya pelindungan anak tidak hanya berkaitan dengan jenis konten, tetapi juga bagaimana sebuah layanan digunakan dan dikelola oleh penggunanya.

Komdigi menyebut evaluasi PP TUNAS mencakup proses self-assessment, verifikasi profil risiko, hingga penerapan fitur pelindungan anak oleh PSE. 

Pemerintah juga mencontohkan Roblox yang menerapkan age gate dan klasifikasi fitur berdasarkan usia, lalu mengalihkan sekitar 23 juta akun pengguna di bawah 16 tahun ke pengaturan pelindungan yang lebih ketat.

Pendekatan tersebut memberi gambaran bahwa pelindungan anak diarahkan pada mekanisme yang berjalan di dalam platform, bukan berhenti pada peringatan atau kewajiban administratif semata.
 

Apa Arti Daftar Ini bagi Pengguna?

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan evaluasi enam bulan diperlukan untuk melihat apakah kewajiban pelindungan anak benar-benar diterapkan oleh platform.

“Enam bulan ini menjadi tahap penting untuk melihat apakah kewajiban pelindungan anak benar-benar dijalankan oleh platform. Kami melihat ada platform yang sudah mengambil langkah konkret, tetapi masih ada yang perlu memenuhi kewajibannya,” ujar Meutya.

Karena itu, masuknya Lazada atau Valorant dalam daftar tersebut lebih tepat dilihat sebagai penanda perlunya penguatan pelindungan anak pada layanan terkait, bukan sebagai pengumuman bahwa platform tersebut langsung dihentikan atau dilarang.

Komdigi masih memberikan kesempatan kepada seluruh PSE untuk menyelesaikan kewajiban self-assessment hingga 31 Desember 2026. Pemerintah juga dapat menetapkan PLF secara langsung sebagai layanan berprofil risiko tinggi apabila kewajiban tersebut tidak dipenuhi.

Dengan demikian, perhatian publik kini tidak hanya tertuju pada siapa saja yang masuk daftar, tetapi juga pada bagaimana masing-masing platform menerapkan mekanisme pelindungan anak secara nyata di layanan mereka.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA