Ilustrasi: BRIN
Ilustrasi: BRIN

Transformasi Sastra dalam Media Kreatif Dorong Ekosistem Sastra Digital

Mohamad Mamduh • 15 Juni 2026 17:12
Ringkasnya gini..
  • Platform digital seperti Instagram, YouTube, dan podcast memperkuat distribusi sastra dalam format audio, video, dan visual.
  • Transformasi ini, menurut BRIN, membutuhkan dukungan ekosistem yang kuat.
  • Salah satu contoh nyata datang dari komunitas sastra di Kepulauan Aru yang berhasil memperkenalkan karya sastra dengan pendekatan kreatif.
Jakarta: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan pentingnya transformasi sastra melalui media kreatif untuk memperluas akses dan memperkuat ekosistem sastra digital di Indonesia.
 
Dalam webinar bertajuk Transformasi Sastra dalam Media Kreatif, Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Herry Jogaswara, menekankan bahwa inovasi menjadi kunci agar karya sastra tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan teknologi. “Sastra harus beradaptasi dengan medium baru agar bisa menjangkau masyarakat luas,” ujarnya.
 
Salah satu contoh nyata datang dari komunitas sastra di Kepulauan Aru yang berhasil memperkenalkan karya sastra dengan pendekatan kreatif meski berada di wilayah terpencil. Hal ini menunjukkan bahwa kreativitas mampu menjaga keberlangsungan sastra sekaligus memperluas jangkauan audiens.

Sastrawan Joshua Igho turut menyoroti peran teknologi digital dan industri kreatif dalam membuka ruang baru bagi sastra. Menurutnya, musik, film, komik digital, hingga media sosial dapat menjadi medium transformasi yang efektif.
 
“Musikalisasi puisi dan adaptasi karya ke film atau animasi bukan hanya memperluas jangkauan, tetapi juga memperkaya interpretasi,” jelasnya. Ia mencontohkan karya Sapardi Djoko Damono yang semakin populer setelah diadaptasi ke musik dan film.
 
Selain itu, platform digital seperti Instagram, YouTube, dan podcast memperkuat distribusi sastra dalam format audio, video, dan visual. Joshua juga menekankan pentingnya pengembangan audiobook di Indonesia, terutama untuk meningkatkan akses bagi penyandang disabilitas netra. Dengan demikian, sastra tidak hanya hadir sebagai karya tulis, tetapi juga sebagai pengalaman multisensori yang inklusif.
 
Transformasi ini, menurut BRIN, membutuhkan dukungan ekosistem yang kuat, termasuk kebijakan yang mendukung budaya Indonesia dan pertumbuhan industri kreatif nasional.
 
Kolaborasi antara peneliti, sastrawan, dan komunitas kreatif diharapkan mampu melahirkan inovasi baru yang bermanfaat bagi masyarakat sekaligus memperkuat posisi sastra Indonesia di era digital.
 
Dengan langkah ini, sastra Indonesia diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang sebagai bagian integral dari industri kreatif, menjangkau generasi muda, dan memperkuat identitas budaya bangsa.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA