Ajinomoto.
Ajinomoto.

Siapa Sangka, Bumbu Micin Punya Kontribusi ke Teknologi AI

Cahyandaru Kuncorojati • 13 April 2026 11:38
Ringkasnya gini..
  • Ajinomoto berperan di AI lewat material ABF untuk chip.
  • ABF penting untuk performa tinggi chip AI modern.
  • Pasokan terbatas jadi bottleneck industri semikonduktor.
Jakarta: Nama Ajinomoto selama ini identik dengan bumbu penyedap rasa atau MSG. Namun di balik itu, perusahaan asal Jepang ini ternyata memiliki peran penting dalam industri teknologi, khususnya dalam pengembangan chip untuk kecerdasan buatan (AI).
 
Kontribusi tersebut datang dari material bernama Ajinomoto Build-up Film (ABF), sebuah komponen penting dalam proses advanced packaging chip modern. Tanpa material ini, produksi chip AI berperforma tinggi tidak dapat berjalan.
 
Dikutip dari penjelasan situs WCCF Tech, ABF merupakan lapisan isolator tipis yang berfungsi sebagai penghubung antara chip silikon dan papan sirkuit (PCB). Material ini memungkinkan chip bekerja dengan kepadatan koneksi tinggi serta menjaga stabilitas sinyal pada frekuensi tinggi.

Teknologi ini menjadi sangat penting untuk chip AI generasi terbaru, seperti akselerator yang digunakan di data center. Chip semacam ini membutuhkan performa ekstrem, sehingga memerlukan struktur packaging yang lebih kompleks dibanding chip biasa.
 
Dalam praktiknya, penggunaan ABF pada chip AI bisa meningkat hingga 15–18 kali lipat dibandingkan komponen konvensional. Hal ini karena setiap paket chip membutuhkan banyak lapisan ABF untuk mendukung performa tinggi.
 
Lonjakan kebutuhan AI secara global membuat permintaan ABF ikut meningkat tajam. Masalahnya, produksi material ini masih sangat bergantung pada satu pemain utama, yakni Ajinomoto melalui divisi teknologinya.
 
Kondisi ini menjadikan ABF sebagai salah satu titik krusial dalam rantai pasok industri semikonduktor. Tanpa pasokan yang cukup, produksi chip AI berisiko terhambat, termasuk untuk GPU dan akselerator terbaru.
 
Meski Ajinomoto telah berupaya meningkatkan kapasitas produksi, ekspansi tidak bisa dilakukan secara instan. Selain membutuhkan investasi besar, perusahaan juga harus mempertimbangkan risiko kelebihan kapasitas jika permintaan di masa depan menurun.
 
Untuk mengatasi keterbatasan ini, perusahaan teknologi besar mulai mengambil langkah strategis, seperti memberikan pembayaran di muka (prepayment) dan menjalin kontrak jangka panjang untuk mengamankan pasokan ABF.
 
Namun, dengan pertumbuhan permintaan AI yang diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan, pasokan ABF masih diprediksi akan tetap terbatas.
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA