“Kami tahu bahwa saat ini integrasi AI ke dalam model operasional yang sudah ada menjadi sangat penting bagi bisnis dan perusahaan, baik untuk menciptakan inovasi model bisnis baru, maupun untuk mengoptimalkan operasional bisnis mereka,” tutur CTO APAC Red Hat, Vincent Caldeira.
RedHat OpenShift AI merupakan platform open source yang menyediakan solusi pengembangan AI dan ML berbasis cloud-native dan menyediakan kemampuan deployment serta scaling yang fleksibel. Solusi ini disebut mendukung tidak hanya cloud tapi juga on-premise alias infrastruktur hybrid.
OpenShift AI juga disebut menyederhanakan dan mempermudah proses fine-tuning dan menyediakan foundation models bagi para profesional di bidang data science. Dibekali software framework CodeFlare, developer bisa mengotomatisasi dan menyederhanakan eksekusi dan langkah siklus hidup foundation model.
Vincent menuturkan bahwa benefitnya para teknisi dan developer bisa berfokus pada pekerjaan mereka tanpa harus memahami kerumitan infrastruktur komputasi mendasarnya dan optimalisasi pemrosesan.
Tentu saja bagi sebuah organisasi bisnis atau perusahaan mereka bisa meningkatkan efisiensi, tantangan berupa keterbatasan dalam memanfaatkan teknologi AI dan ML bisa dihilangkan. Perusahaan yang sudah mengandalkan IBM watsonx.ai juga akan lebih diuntungkan saat menggunakan solusi Red Hat OpenShift AI.
Diketahui Red Hat OpenShift AI telah bermitra dengan platform AI IBM tersebut untuk menghadirkan kemampuan AI di semua aspek bisnis maupun operasional perusahaan dengan menyediakan ruang terciptanya foundation models generasi mendatang.
“Baru-baru ini kami juga memulai inkubasi Project CodeFlare di komunitas open source Open Data Hub. Dengan CodeFlare, pelanggan akan mudah untuk mendeploy dan mengelola ratusan beban kerja AI/ML yang terdistribusi, sekaligus meminimalkan biaya komputasi perusahaan mereka,” kata Vincent.
IBM watsonx.ai akan berjalan di atas stack berteknologi open source berbasis Red Hat OpenShift, sebuah platform aplikasi berbasis Kubernetes. Stack ini dibangun di dalam Open Data Hub (ODH), yaitu platform open source untuk membangun, mendeploy, dan mengelola aplikasi yang data-intensive di Kubernetes.
Red Hat OpenShift AI juga disebut sudah mendukung kemampuan akselerasi GPU berkat integrasi Nvidia GPU Operator untuk di dalam OpenShift Container Platform.
Nvidia GPU Operator menyediakan pengelolaan terpusat untuk komponen software hingga driver, device plugin Kubernetes untuk GPU, dan lainnya. Hal ini untuk menghadirkan efisiensi saat deployment sehingga mampu mengelola beban kerja GPU.
“Industri apa pun bisa mendapatkan manfaat dari penggunaan solusi OpenShift AI. Perusahaan yang ingin membuat aplikasi berbasis AI bisa menggunakan model dan aplikasi AI yang siap produksi dari Openshift AI,” tutur Vincent.
“Di semua industri, enterprise dan organisasi sudah menggunakan Red Hat OpenShift AI untuk melahirkan berbagai inovasi AI/ML. Pelanggan Red Hat mulai dari industri perbankan, pemerintahan, layanan kesehatan, pendidikan, telko, dan lainnya telah memanfaatkan Openshift AI untuk contoh kasus yang khusus bagi mereka,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News