Temuan utama riset ini menyimpulkan bahwa tantangan terbesar perusahaan Indonesia saat ini bukan pada kemauan untuk bertransformasi, melainkan pada kemampuan menyelaraskan strategi bisnis dan teknologi secara konsisten di level direksi.
David Wirawan, Koordinator Divisi Riset iCIO Community, menjelaskan bahwa kesenjangan ini terjadi pada level penyelarasan, bukan niat, yaitu dalam hal menyepakati prioritas, risiko, dan ukuran keberhasilan yang sama antara CIO dan C-Level lainnya.
Dari perspektif CEO, digital telah menjadi agenda utama. Sebanyak 56% CEO menyatakan bahwa digital sudah sepenuhnya terintegrasi dalam strategi bisnis perusahaan. Namun, 33% CEO masih memandang digital hanya sebagai fungsi pendukung, yang mengindikasikan penyelarasan yang belum sepenuhnya solid.
Dalam hal investasi, riset yang melibatkan IT Leaders dan CEO dari 12 industri ini mengungkap bahwa 41% keputusan investasi dan anggaran IT masih dipimpin oleh CIO atau Technology Leaders, meskipun keterlibatan CEO dan Board dilaporkan semakin meningkat. Mayoritas CEO, yakni 55%, mengategorikan belanja IT sebagai investasi strategis untuk mendorong pertumbuhan.
Untuk menjaga pertumbuhan dan ketahanan bisnis di tengah ketidakpastian ekonomi, organisasi cenderung lebih selektif dalam berinvestasi digital. Sebanyak 63% organisasi menyatakan anggaran digital tumbuh secara terfokus dengan prioritas pada kecerdasan buatan (AI), cloud, dan cybersecurity.
Teknologi seperti AI/GenAI, platform digital customer experience, real-time data analytics, dan cloud-native architecture dinilai sebagai investasi yang paling menjanjikan hingga tahun 2026. Edwin Sugianto dan David Wirawan dari iCIO Community menambahkan, inovasi kini berjalan lebih disiplin, memastikan setiap investasi teknologi terhubung dengan kebutuhan bisnis untuk efisiensi, pertumbuhan, atau ketahanan jangka panjang.
Meski demikian, pengukuran keberhasilan transformasi digital masih didominasi oleh pendekatan finansial. Sebanyak 53% organisasi masih mengandalkan ROI (Return on Investment) sebagai indikator utama.
Sementara itu, 33% telah mulai mengombinasikan ROI dengan RoV (Return on Value), seperti pengalaman pelanggan dan kesiapan organisasi. Perbedaan perspektif antar pimpinan dan tekanan hasil jangka pendek menjadi hambatan utama dalam memperluas pendekatan pengukuran nilai ini.
Riset ini menyimpulkan, agar dapat melangkah dari sekadar bertahan menuju memenangkan disrupsi, perusahaan perlu membangun kepemimpinan kolektif, akuntabilitas bersama, dan kejelasan nilai dalam setiap keputusan digital yang diambil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News