Mengutip Gizmochina, perubahan ini menimbulkan pertanyaan di antara pengguna Twitter dan penggemar teknologi, sebab perusahaan jejaring sosial ini belum secara resmi mengonfirmasi terkait dengan update tersebut.
Sejumlah pihak berspekulasi bahwa hal ini hanya kesalahan sementara, sedangkan sejumlah pihak lain meyakini bahwa ini merupakan tindakan yang disengaja untuk mendorong lebih banyak orang membuat akun Twitter.
Twitter telah berupaya untuk meningkatkan basis penggunanya, dan keharusan ini dinilai menjadi salah satu strategi untuk mengubah pengamat pasif menjadi partisipan aktif. Namun, perubahan ini berpotensi memunculkan konsekuensi tidak diinginkan untuk Twitter.
Apabila tweet tidak lagi dapat diakses secara publik, hal ini dinilai akan berdampak pada visibilitas situs pada mesin pencarian. Hal ini berpotensi memicu penurunan trafik organik dari platform seperti Google.
Selain itu, perubahan ini telah mendapatkan tanggapan tidak baik dari pengguna yang lebih memilih kemudahan akses sebelumnya. Keterlibatan terkini Elon Musk, kendati bukan lagi sebagai CEO, pada operasionalisasi Twitter berpotensi menjadi faktor yang berkontribusi terkait perubahan ini.
Musk sebelumnya telah mengekspresikan kekhawatiran terkait alat pencarian AI Twitter dan cukup kritis terkait perusahaan yang memanfaatkan data Twitter tanpa izin. Dengan CEO baru Twitter Linda Yaccarino mulai menjalankan perannya, platform ini masih saja mengalami error teknis.
Baru-baru ini, pengguna dalam jumlah signifikan menerima notifikasi penangguhan untuk aktivitas yang dicurigai sebagai spam, dan belum tersedia informasi terkait penyebab insiden ini, sebab Twitter belum memberikan respon resmi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News