Chief Business Officer - Global Fynd, Ronak Modi
Chief Business Officer - Global Fynd, Ronak Modi

Bikin Video Iklan Pakai AI, Brand Ritel Pangkas Biaya hingga 90%

Mohamad Mamduh • 21 September 2026 12:19
Ringkasnya gini..
  • Pergeseran perilaku konsumen ke platform seperti TikTok telah mengubah lanskap pemasaran ritel secara fundamental.
  • Efisiensi di lini konten kreatif ini melengkapi ekosistem platform unified commerce yang dikembangkan Fynd.
  • Didirikan pada 2012, Fynd saat ini telah beroperasi di sekitar 11 negara di kawasan Asia, Timur Tengah, hingga Eropa.
Jakarta: Ledakan tren social commerce di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, menuntut jenama ritel untuk memproduksi konten visual promosi dalam volume tinggi dan tempo yang serba cepat. Mengakomodasi kebutuhan tersebut, pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini mentransformasi proses pembuatan iklan komersial, memungkinkan pemilik jenama memangkas biaya produksi hingga 90 persen sekaligus mempersingkat waktu kerja dari hitungan minggu menjadi beberapa hari saja.

Chief Business Officer - Global Fynd, Ronak Modi, mengungkapkan bahwa pergeseran perilaku konsumen ke platform seperti TikTok telah mengubah lanskap pemasaran ritel secara fundamental. Merek tidak lagi cukup merilis satu atau dua materi promosi dalam satu kuartal; mereka dihadapkan pada tuntutan memproduksi puluhan hingga ratusan variasi konten yang relevan dengan tren yang terus bergulir.

Namun, pendekatan produksi konvensional dinilai terlalu lambat dan membebani anggaran belanja pemasaran peritel. Menurut Modi, proses pembuatan video promosi melalui rumah produksi tradisional umumnya memakan waktu dua hingga tiga minggu dan menelan biaya antara USD40.000 hingga USD50.000 (sekitar Rp650 juta hingga Rp800 juta). Biaya tersebut melambung tinggi karena mencakup penyewaan studio, pencarian lokasi, perekrutan model, penulisan naskah, hingga pelibatan kru fotografer dan videografer profesional.

"Kami melihat permintaan yang sangat besar dari berbagai brand untuk membuat konten dalam skala masif dan waktu yang jauh lebih singkat. Melalui pemanfaatan AI, kami mampu memangkas waktu pengerjaan dari dua hingga tiga minggu menjadi sekitar 48 jam saja," ujar Ronak Modi dalam wawancara eksklusif beberapa waktu lalu.

Modi memaparkan salah satu proyek yang digarap Fynd untuk jenama fesyen global, Superdry. Menggunakan teknologi AI generatif, timnya menghasilkan materi video promosi produk yang tampil hiper-realistis dalam waktu tiga hari. Menariknya, anggaran yang dihabiskan untuk proyek tersebut hanya berkisar 10% dari biaya yang biasanya dibutuhkan jika melakukan sesi syuting fisik konvensional.

Selain video komersial terstruktur, adopsi AI juga merambah pembuatan konten berbasis pengguna (user-generated content/UGC). Konten UGC yang terlihat natural dan organik kini menjadi format yang paling efektif mendorong interaksi di platform media sosial. Dengan bantuan teknologi, peritel cukup menyediakan foto produk, kemudian sistem AI akan mengolahnya menjadi video dinamis yang proporsional dan siap ditayangkan di berbagai kanal digital.

Mengenai arsitektur teknologinya, Modi menjelaskan bahwa Fynd tidak mengembangkan model fondasi AI secara mandiri dari awal. Filosofi yang diterapkan adalah berkolaborasi dengan model-model AI terdepan yang tersedia di industri global. Di atas model-model tersebut, Fynd membangun kasus penggunaan khusus yang dilatih menggunakan data privat ritel serta basis data domain publik untuk menghasilkan luaran yang akurat bagi industri perdagangan.

Efisiensi di lini konten kreatif ini melengkapi ekosistem platform unified commerce yang dikembangkan Fynd. Selain produksi media berbasis AI, Fynd juga menghadirkan fitur virtual try-on berbasis realitas tertambah (augmented reality/AR) dan AI untuk kategori kacamata, tata rias, hingga analisis kondisi kulit bagi industri kecantikan.

Di Indonesia, teknologi virtual try-on milik Fynd (GlamAR) telah diimplementasikan oleh rekan partner. Fitur ini mampu mengukur dimensi wajah dan ukuran bingkai secara presisi langsung dari peramban ponsel atau komputer konsumen. Hasilnya, terjadi peningkatan konversi transaksi hingga 30 kali lipat pada konsumen yang mencoba kacamata secara virtual dibandingkan mereka yang tidak memanfaatkan fitur tersebut.

Didirikan pada 2012, Fynd saat ini telah beroperasi di sekitar 11 negara di kawasan Asia, Timur Tengah, hingga Eropa, serta memproses nilai transaksi bruto (Gross Merchandise Value/GMV) mencapai USD3,5 miliar. Perjalanan ekspansi Fynd didukung oleh investasi strategis dari Google pada 2018 dalam inisiatif digitalisasi peritel, disusul akuisisi saham mayoritas oleh konglomerat Reliance Industries pada 2019.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA