Disrupsi Digital Bikin Avaya Ubah Fokus Perusahaan
Avaya akan mengubah fokusnya untuk menyelaraskan diri dengan perkembangan kebutuhan teknologi pelanggan.
Jakarta: Transformasi digital menjadi hal yang tidak dapat dielakan oleh berbagai organisasi di dunia, termasuk di Indonesia, mengingat generasi milenial kini menjadi generasi pelanggan yang kian membesar.

"Market Indonesia merupakan pasar terpenting bagi Avaya. Indonesia merupakan salah satu negara yang mengusung transformasi digital dengan baik, jadi saat ini menjadi saat yang tepat untuk menerapkan teknologi pintar di negara ini," ujar Managing Director ASEAN Avaya Sami Ammous.

Namun, transformasi digital dinilai masih perlu dikembangkan demi mencari keseimbangan yang tepat antara organisasi dan pelanggan. Organisasi masih perlu memperhatikan sentuhan manusia yang dibutuhkan pada sejumlah layanan seperti layanan aduan.


Sebab layanan ini dinilai masih belum dapat ditangani dengan baik oleh mesin chatbot. Chatbot disebut belum mampu menggantikan pengalaman yang disuguhkan manusia saat melayani pelanggan di layanan aduan karena tidak memiliki empati.

Selain itu, Avaya juga menilai transformasi digital juga membutuhkan dukungan saluran pendukung lain untuk berinteraksi, salah satunya adalah aplikasi.

Aplikasi menjadi salah satu saluran yang banyak dimanfaatkan organisasi, mengingat perilaku generasi milenial yang sudah akrab dengan teknologi.

Sayangnya, Avaya mengaku aplikasi bukanlah bidang spesialisasinya. Karenanya, Avaya mengaku akan mengembangkan platform guna menghubungkan saluran dan sistem Avaya dengan saluran dan sistem pihak lain yang digunakan oleh pelanggan.

Platform penghubung ini disebut Avaya akan menjadi fokus bisnisnya secara penuh dalam beberapa tahun mendatang. Saat ini, Avaya masih terfokus ke bisnis produk yang digelutinya sembari mengembangkan platform dan beralih secara bertahap.



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.