?Huawei dilaporkan mendapatkan sebanyak 46 kontrak kerja sama komersial dari 30 negara.
?Huawei dilaporkan mendapatkan sebanyak 46 kontrak kerja sama komersial dari 30 negara.

Masuk Daftar Hitam AS, Huawei Kantongi Kontrak 5G dari 30 Negara

Teknologi huawei
Lufthi Anggraeni • 10 Juni 2019 15:27
Jakarta: Huawei mendapatkan 46 kontrak kerja sama komersial dari 30 negara dan mendistribusikan lebih dari 100.000 stasiun 5G secara global. Hal ini menjadikannya sebagai pemain utama di ranah 5G, meski masuk daftar hitam Amerika Serikat.
 
Perusahaan yang berpusat di Shenzhen, Tiongkok tersebut saat ini tengah menghadapi tekanan setelah Amerika Serikat merilis pernyataan bahwa sistem Huawei diperkirakan berpeluang telah dimanipulasi oleh pemerintah Tiongkok, guna memata-matai negara lain dan mengganggu komunikasi penting, seperti laporan First Post.
 
Pada tanggal 6 Juni lalu mengumumkan telah mendapatkan izin penggunaan komersial dari jaringan 5G pada empat operator milik negara dari Kementerian Industri dan Teknologi Informasi Tiongkok, untuk mulai menghadirkan layar 5G.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Izin ini mengindikasikan kebulatan tekad Beijing untuk menjadi pemimpin global dalam menghadirkan jaringan nirkabel super cepat.
 
Kementerian Industri dan Teknologi Informasi Tiongkok juga mengeluarkan izin untuk China Broadcasting Network dan tiga operator besar Tiongkok, yaitu China Telecom, China Mobile dan China Unicom.
 
Huawei juga menyebut telah melakukan persiapan untuk penggunaan komersial jaringan 5G di Tiongkok. Pada bulan Februari tahun 2018 lalu, Huawei melakukan panggilan 5G pertama di dunia dan meluncurkan perangkat terminal 5G pertama.
 
Huawei terperangkap pada perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat, setelah Presiden Donald Trump membebankan tarif sebesar USD200 miliar (Rp2.850 triliun) pada produk asal Tiongkok.
 
Tarif ini mendorong Beijing untuk menaikan bea untuk produk asal Amerika Serikat sebesar USD60 miliar (Rp855,5 triliun). Perselisihan antar kedua negara berkembang menjadi perang teknologi saat Amerika Serikat mendesak negara lain untuk tidak bekerja sama dengan Huawei di bidang jaringan 5G.
 
Permasalahan memburuk saat Huawei menjadi pemimpin dunia di ranah peralatan jaringan telekomunikasi dan menjadi salah satu produsen smartphone terbesar di dunia, mendampingi Samsung dan Apple.
 
Huawei masih enggan berbagi informasi lebih detail terkait negara yang menjalin kerja sama terkait jaringan 5G ini. Sebagai informasi, 5G merupakan teknologi seluler generasi selanjutnya dengan kecepatan unduh diklaim mencapai 10 hingga 100 kali lebih cepat jika dibandingkan dengan jaringan 4G.
 
Selain kecepatan unduh dan unggah lebih cepat, jaringan 5G juga menjanjikan cakupan lebih luas dan koneksi lebih stabil. Teknologi 5G akan memperkuat infrastruktur informasi generasi baru berkecepatan tinggi, mobile, aman dan tersebar luas.
 
Sejumlah negara, termasuk Australia dan Selandia Baru, telah memblokir Huawei untuk memasok peralatan untuk jaringan 5G mobile. Hal berbeda diungkapkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin.
 
Putin justru mendukung Huawei dan menyebut bahwa tindakan permusuhan oleh negara barat yang dipimpin Amerika Serikat merupakan usaha untuk menghentikan langkah Huawei di pasar global dan menjadi awal dari perang teknologi.
 
Sementara itu, pertarungan proaktif Huawei di pengadilan Amerika Serikat menandakan bahwa perusahaan asal Tiongkok ini bersedia untuk menggunakan segala cara, termasuk pengadilan nasional, untuk mencegah pengucilan dari kompetisi di ranah 5G.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif