Kriminal siber kini menjadi semakin tertarik menyerang perangkat mobile. (AFP PHOTO / Kirill KUDRYAVTSEV)
Kriminal siber kini menjadi semakin tertarik menyerang perangkat mobile. (AFP PHOTO / Kirill KUDRYAVTSEV)

Indonesia Mulai Jadi Incaran Hacker

Teknologi smartphone cyber security
Ellavie Ichlasa Amalia • 18 Maret 2019 16:15
Jakarta:Pada tahun lalu, sekitar 30 persen dari pengguna seluler Indonesia menjadi korban serangan siber, menurut perkiraan Kaspersky Lab. Ini menjadikan Indonesia sebagai negara keenam dengan jumlah korbanmalware mobileterbanyak.
 
Mengingat banyaknya pengguna smartphone di Indonesia -- dan angka itu diperkirakan akan terus tumbuh -- tampaknya, ini tidak hanya membuat Indonesia menarik bagi para perusahaan teknologi, tapi juga kriminal siber.
 
"Saat ini, ponsel pintar berisiko untuk terkena ancaman seiring hadirnya inovasi dalam teknologi seperti pembayaran digital," kata Yeo Siang Tiong, General Manager di Kaspersky Lab, Asia Tenggara. "Ini membuat serangan mobile berpotensi menciptakan kerugian besar."

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di dunia, jumlah ancaman pada perangkat mobile memang tengah naik. Jumlah serangan pada perangkat mobile naik hingga hampir dua kali lipat dalam satu tahun, menurut laporan Kaspkersy Lab yang berjudul Evolusi Mobile Malware 2018.
 
Pada tahun lalu, teradapat 116,5 juta serangan. Sebagai perbandingan, pada 2017, hanya terdapat 66,4 juta serangan.Menariknya, meskipun jumlah perangkat yang menjadi korban menjadi semakin banyak, jumlah ancaman yang muncul justru semakin sedikit. Menurut Kaspersky, ini menunjukkan bahwa malware kini dapat memengaruhi lebih banyak orang.
 
Salah satu kunci keberhasilan serangan siber adalah menyasar perangkat yang tepat. Mengingat kini semakin banyak orang yang menggantungkan diri pada smartphone, tidak heran jika para kriminal siber menargetkan perangkat itu.
 
Pada 2018, jumlah korban serangan malware mobile mencapai lebih dari 9,8 juta orang, naik 774 ribu dari tahun sebelumnya. Salah satu serangan yang jumlah korbannya bertambah secara signifikan adalah Trojan-Droppers, yang persentase korbannya naik dari 8,63 persen menjadi 17,21 persen.
 
Trojan-Droppers adalah jenis malware yang berfungsi untuk menembus perlindungan pada sistem dan menyalurkan malware lainnya, mulai dari Trojan perbankan sampai ransomware.
 
"Sepanjang tahun 2018, kami mengamati teknik baru tentang cara menginfeksi perangkat seluler seperti pembajakan DNS, dan juga peningkatan fokus pada skema distribusi yang semakin canggih, seperti spam SMS," kata Victor Chebyshev, pakar keamanan di Kaspersky Lab.
 
Pada saat yang sama, Anda harus memilih aplikasi antivirus dengan sangat hati-hati. Menurut studi terbaru, kebanyakan aplikasi antivirus untuk Android tidak berguna.
 

(ELL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif