Garmin Hybrid Lab hadirkan latihan berbasis data untuk tingkatkan performa atlet hybrid race secara lebih presisi.
Garmin Hybrid Lab hadirkan latihan berbasis data untuk tingkatkan performa atlet hybrid race secara lebih presisi.

Kombinasi Data dan Teknologi, Garmin Hybrid Lab Ubah Cara Latihan Atlet

Cahyandaru Kuncorojati • 14 April 2026 10:36
Ringkasnya gini..
  • Garmin Hybrid Lab fokus pada latihan berbasis data biometrik untuk atlet.
  • Metrik seperti HRV, VO2 Max, dan Training Readiness jadi kunci performa.
  • Data membantu atur latihan, recovery, dan strategi kompetisi lebih presisi.
Jakarta: Garmin Indonesia menghadirkan Garmin Hybrid Lab sebagai pendekatan baru dalam latihan berbasis data untuk menghadapi kompetisi hybrid race. Inisiatif ini menekankan bahwa performa atlet kini tidak hanya bergantung pada kekuatan fisik, tetapi juga kemampuan membaca data tubuh secara presisi.
 
Dalam kompetisi hybrid, atlet dituntut menggabungkan kekuatan anaerobik dari sesi functional workout dengan daya tahan aerobik saat lari. Kombinasi ini membuat pengelolaan energi menjadi lebih kompleks, sehingga pendekatan latihan konvensional dinilai tidak lagi cukup.
 
“Di kompetisi Hybrid, performa tidak lagi hanya soal seberapa kuat Anda berlatih, tetapi seberapa cerdas Anda membaca tubuh sendiri,” tutur ujar Chandrawidhi Desideriani, Marketing Communications Senior Manager Garmin Indonesia.

“Melalui data biometrik yang akurat dari Garmin, setiap keputusan, mulai dari kapan berlatih, bagaimana mengatur pace, hingga kapan harus recovery, menjadi lebih terukur, presisi, dan berdampak langsung pada hasil akhir,” jelasnya.
 
Garmin Hybrid Lab menghadirkan pengalaman latihan yang memanfaatkan berbagai metrik biometrik seperti detak jantung, HRV (Heart Rate Variability), hingga Training Readiness. Data ini digunakan sebagai dasar dalam menentukan intensitas latihan dan waktu pemulihan.
 
Melalui fitur seperti Custom Workout di Garmin Connect, pengguna dapat merancang sesi latihan multisport yang menggabungkan lari dan HIIT hingga 16 segmen. Selama latihan berlangsung, pemantauan zona detak jantung membantu atlet menjaga performa tetap optimal tanpa mengorbankan efisiensi energi.
 
Selain itu, metrik lanjutan seperti VO2 Max dan Lactate Threshold memungkinkan atlet memahami kapasitas tubuh secara lebih mendalam, termasuk batas kelelahan dan potensi performa.
 
Setelah latihan, seluruh data akan terintegrasi ke dalam ekosistem Garmin Connect. Dari sini, atlet dapat mengevaluasi performa melalui indikator seperti Training Effect, Training Load, hingga Training Status.
 
Pendekatan ini juga membantu menentukan waktu pemulihan yang ideal melalui fitur recovery time, sehingga risiko overtraining dan cedera dapat diminimalkan. Garmin menekankan bahwa kekuatan utamanya bukan hanya pada perangkat wearable, tetapi pada ekosistem terintegrasi yang mengolah data menjadi insight yang bisa langsung diterapkan.
 
Dengan pendekatan ini, baik atlet profesional maupun pengguna umum dapat meningkatkan performa secara lebih terukur, mulai dari tahap latihan hingga kompetisi.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA