Salesforce merupakan perusahaan teknologi yang menyediakan solusi perangkat lunak untuk membantu bisnis mengelola data, proses, dan hubungan pelanggan, serta mendorong transformasi digital termasuk pemanfaatan AI di lingkungan enterprise.
Berdasarkan hasil survei terhadap 1.000 knowledge worker di Indonesia dari sektor keuangan, pemasaran, teknologi informasi, dan manufaktur, Andreas menyoroti masih terbatasnya dukungan pelatihan AI dari perusahaan.
“Hanya 33% pekerja yang mengaku bahwa mereka mendapatkan pelatihan dan pengembangan keterampilan AI dari perusahaannya,” ujarnya saat media briefing usai membuka rangkaian acara “Agentforce World Tour Jakarta 2026” yang berlangsung di Ballroom Pacific Place, Ritz Carlton Jakarta.
Adopsi AI Tak Cukup Sekadar Penggunaan Dasar
Andreas menjelaskan, meski banyak pekerja sudah terbiasa menggunakan AI dalam kehidupan sehari-hari, hal tersebut belum cukup untuk mendorong adopsi di lingkungan perusahaan.“Membuat prompt atau pertanyaan ke ChatGPT adalah perkara mudah bagi para pekerja itu. Tapi, adopsi di lingkungan perusahaan butuh jauh lebih banyak daripada itu,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa penggunaan AI dalam perusahaan membutuhkan konteks yang lebih kompleks.
“Konteks perusahaan, data dari perusahaan, serta batasan yang tepat untuk mendapatkan hasil yang dapat diandalkan,” lanjut Andreas.
Untuk memaksimalkan potensi AI, perusahaan disebut perlu melakukan transformasi tidak hanya dari sisi teknologi, tetapi juga sumber daya manusia.
“Pendeknya, untuk dapat memanfaat peluang agentik AI secara optimal, diperlukan transformasi baik dari sisi sumber daya manusia maupun dari segi teknologinya,” ujar Andreas.
Ia menambahkan bahwa bisnis perlu merancang ulang sistem teknologi serta memastikan karyawan memiliki akses ke alat AI kelas enterprise.
“Memastikan bahwa pekerja memiliki akses ke alat-alat Artificial Intelligence kelas enterprise yang bermutu,” katanya.
Salesforce Dorong AI Fluency di Perusahaan
Sebagai bagian dari transformasi tersebut, Salesforce memperkenalkan konsep AI fluency sebagai kemampuan penting yang perlu dimiliki tenaga kerja.“AI fluency adalah kemampuan untuk berkolaborasi secara percaya diri dengan AI dan mendorong dampak bisnis secara cepat pada skala yang jauh lebih besar,” jelas Andreas.
Konsep ini mencakup empat area utama yang disebut sebagai 4R of AI fluency, yakni redesign, reskill, redeploy, dan rebalance.
Lebih lanjut, Andreas menegaskan bahwa investasi teknologi saja tidak cukup dalam mendorong adopsi AI di perusahaan.
“Perusahaan harus memandang AI sebagai bagian dari transformasi sumber daya manusia bukan sekedar investasi teknologi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa perusahaan perlu menyediakan dukungan, pelatihan, serta peluang pengembangan keterampilan bagi karyawan agar dapat beradaptasi dengan perubahan.
AI Buka Peluang, Manusia Tetap Utama
Di tengah perkembangan AI, Salesforce menilai bahwa teknologi ini justru membuka peluang bagi peningkatan kualitas pekerjaan manusia.“Agentik AI menghadirkan peluang untuk meningkatkan mutu pekerja dan pekerjaan yang dilakukan oleh manusia dengan lebih menekankan pada inovasi, kreativitas, dan pekerjaan yang sungguh-sungguh bermakna,” jelas Andreas.
Namun demikian, peran manusia tetap menjadi faktor utama dalam organisasi. “Manusia tetap merupakan competitive advantage atau keunggulan kompetitif yang utama,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News