Jakarta: Kualitas udara yang memburuk kembali menjadi perhatian utama masyarakat di Indonesia. Berdasarkan data IQAir pada pertengahan Sep 2026, tingkat polusi udara di Jakarta tercatat dalam kategori Tidak Sehat dengan konsentrasi PM 2,5 mencapai 74,7 mikrogram per meter kubik. Angka ini mendekati lima kali lipat dari batas pedoman kualitas udara harian yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Kondisi tersebut kian krusial seiring dengan ancaman fenomena El Niño yang berpotensi memicu musim kemarau lebih panas dan berkepanjangan. Peningkatan suhu serta kekeringan ini mempertinggi risiko kebakaran hutan dan lahan yang memicu kabut asap.
Guna mengantisipasi cuaca panas dan kualitas udara luar yang memburuk, sebagian besar masyarakat memilih berlindung di dalam rumah dengan menutup pintu dan jendela serta mengandalkan pendingin udara maupun kipas angin.
Namun, berada di dalam bangunan tidak serta-merta menjamin udara yang dihirup lebih bersih. Berdasarkan hasil studi Dyson Global Connected Air Quality Data yang menganalisis lebih dari setengah triliun titik data dari 2,5 juta pemurni udara di 39 negara, kualitas udara di dalam ruangan justru bisa lebih buruk dibandingkan udara luar rumah.
Polusi udara dalam rumah secara konsisten mencapai tingkat tertinggi pada sore dan malam hari, yaitu saat mayoritas penghuni beraktivitas di dalam rumah.
Banyak masyarakat belum menyadari perbedaan mendasar antara mendinginkan dan memurnikan udara. Penggunaan kipas angin dan pendingin udara (AC) hanya berfungsi menurunkan suhu dan meningkatkan kenyamanan termal. Sebaliknya, perangkat pemurni udara bekerja khusus melalui sistem filtrasi untuk menangkap dan mengeliminasi berbagai polutan yang melayang di udara.
Guna mempersiapkan hunian dalam menghadapi cuaca kering dan ancaman kabut asap, terdapat empat langkah praktis yang dapat diterapkan:
1. Periksa Kualitas Udara Luar Ruangan: Buka jendela dan pintu hanya pada waktu yang tepat ketika udara luar dalam kondisi baik guna menyegarkan sirkulasi.
2. Kurangi Sumber Polusi Internal: Lakukan pembersihan rumah secara berkala untuk meminimalkan sisa partikel dan gas hasil aktivitas harian.
3. Pantau Polutan Secara Real-Time: Manfaatkan perangkat yang dilengkapi sensor terintegrasi untuk mendeteksi perubahan kualitas udara secara otomatis.
4. Gunakan Sistem Filtrasi yang Tepat: Kombinasikan filter HEPA untuk menangkap partikel halus dan filter karbon aktif untuk menyerap gas serta bau tidak sedap.
Setiap ruangan memiliki kebutuhan filtrasi yang berbeda tergantung pada ukuran area dan jenis polutan. Untuk ruang pribadi, pemurni udara seperti Dyson HushJet Purifier Compact mampu menangkap 99,97% partikel mikroskopis hingga ukuran 0,3 mikron serta menghancurkan formaldehida.
Sementara untuk ruangan yang lebih besar, pemurni udara Purifier Big+Quiet Formaldehyde menawarkan performa filtrasi ultrahalus hingga ukuran PM 0,1 dengan tingkat kebisingan yang sangat rendah.
Selain itu, terdapat pula opsi Purifier Cool PC2 De-NOx yang dirancang khusus untuk menangkap 50% lebih banyak gas nitrogen dioksida (NO2). Mengingat ancaman cuaca panas dan kabut asap yang dapat berlangsung lama, investasi pada pemurnian udara ruangan menjadi langkah strategis untuk menjaga kesehatan keluarga jangka panjang.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan