Jakarta: Seringkali, ketika sebuah perusahaan transportasi memutuskan untuk memasang teknologi pemantauan canggih di armada mereka, reaksi pertama yang muncul dari para pengemudi bukanlah antusiasme, melainkan resistensi. Ada ketakutan mendalam bahwa teknologi tersebut hanyalah alat yang siap menghakimi setiap kesalahan kecil di jalan.
Dalam diskusi media bersama Geotab bertajuk Smarter Fleets, Safer Roads: The Connected Intelligence Dialogue di Jakarta, Kamis 8 Oktober 2026, terungkap bahwa teknologi telematika justru bisa menjadi alat pendukung yang paling berharga bagi pengemudi, asalkan dikelola dengan pendekatan budaya yang tepat.
Kadek Bayu Temaja, Direktur Aerotrans, mengakui bahwa tantangan terbesar saat pertama kali mengadopsi teknologi Geotab adalah penerimaan internal. "Jujur, di awal agak shock. Dulu, saat sistem serupa dipasang pada pilot pesawat tahun 2000-an, banyak yang protes. Hal yang sama terjadi pada pengemudi kami," ungkap Kadek.
Resistensi ini wajar. Pengemudi merasa privasi mereka terganggu dan setiap gerak-gerik mereka diawasi. Namun, Aerotrans berhasil membalikkan narasi tersebut. Bukan pada pengawasan, kuncinya berada pada coaching atau pembinaan.
Alih-alih menggunakan data hanya untuk memberikan sanksi, perusahaan ini menggunakan data telematika sebagai dasar untuk memberikan pelatihan yang terarah. Jika data menunjukkan seorang pengemudi sering melakukan tailgating (menempel kendaraan di depan), perusahaan tidak langsung memecatnya. Sebaliknya, mereka memberikan pelatihan khusus mengenai jarak aman.
"Kami membuat sistem reward dan punishment. Kami membuat peringkat pengemudi terbaik dan terburuk. Pengemudi terbaik mendapatkan apresiasi, sementara yang kurang baik mendapatkan pembinaan," jelas Kadek. Pendekatan ini mengubah persepsi pengemudi. Mereka mulai menyadari bahwa sistem ini justru membantu mereka bekerja lebih aman dan efisien.
Hal senada disampaikan oleh Syukron Fadillah Alkautsar, Head of Business Unit TRAVL. Awalnya, pengemudi menganggap perangkat tersebut sebagai alat untuk menghakimi. Namun, setelah merasakan manfaat langsung—seperti notifikasi yang membantu mereka menghindari denda parkir atau peringatan dini sebelum terjadi insiden—penerimaan pengemudi meningkat drastis. Mereka menyadari bahwa teknologi ini adalah asisten yang menjaga mereka tetap aman di jalan.
Keberhasilan transformasi digital dalam armada sangat bergantung pada bagaimana manajemen mengomunikasikan manfaatnya kepada manusia di baliknya. Ketika data digunakan untuk mendukung, bukan sekadar memata-matai, pengemudi akan merasa lebih dihargai.
Bukan tentang menggantikan peran manusia, pada akhirnya, teknologi telematika yang didukung AI bisa memberdayakan mereka. Dengan mengubah budaya kerja dari yang bersifat reaktif menjadi proaktif, perusahaan tidak hanya meningkatkan keselamatan di jalan, tetapi juga membangun loyalitas dan profesionalisme pengemudi.
Teknologi yang tepat, jika dipadukan dengan pendekatan manusiawi, terbukti menjadi kunci utama dalam menciptakan ekosistem transportasi yang lebih aman bagi semua pihak.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan