Perangkat ini dikembangkan melalui kolaborasi lanjutan dengan Leica dan difokuskan pada peningkatan kemampuan fotografi mobile. Menariknya pada kedua seri ini menghadirkan standar baru yang membuatnya terasa Leica banget berkat filosofi “Essential Leica Imagery” yang menekankan kualitas gambar tajam, karakter warna autentik, serta pengalaman fotografi yang lebih mudah diakses.
Medcom.id berkesempatan menjajal kualitas lensa Leica di Xiaomi 17 dengan menjepret beberapa spot autentik di Yogyakarta dan Solo, Jawa Tengah. Petualangan memotret dengan smartphone ini dimulai dari Pring Ledok Tinjon di Dusun Tinjon, Kelurahan Madurejo, Kapanewon Prambanan, Sleman.
Nuansa jadul dari pasar, pengrajin wayang hingga pawon warga ini menggugah gairah untuk memfoto dengan berbagai angel. Mode Leica Authentic pada Xiaomi 17 mampu menghasilkan warna yang natural khas Leica. Dan berkat Leica Summilux Optical Lens hasil jepretan terlihat tajam.

(Wajah pengrajin wayang ditangkap secara dramatis. Foto: Medcom/Syahrul Ramadhan)
Bergeser ke sentra kerajinan payung Juwiring di Klaten, sebuah lokasi yang menghadirkan nuansa warna-warni. Sebagai informasi payung Juwiring memang terkenal dengan warnanya yang cerah serta motif bunga yang khas.

(Kerajinan payung Juwiring. Foto: Medcom/Syahrul Ramadhan)
Kemudian mengunjungi sentra kerajinan payung Juwiring di Klaten. Payung Juwiring dikenal dengan warna-warni yang cerah, motif bunga dan ornamen-ornamen khas Jawa.
Penjelajahan fotografi berlanjut melihat pentas Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya di Sleman. Memotret persiapan menjadi momen yang tidak boleh dilewatkan. Ruang temaram membuat proses berdandan terasa khas sekaligus menantang.
Kemampuan Xiaomi 17 diuji untuk dapat memotret dalam kondisi low light dan hasilnya kualitas gambar tetap tajam. Begitupun ketika pentas, smartphone ini bisa menangkap ekspresi dari para pemain ketoprak yang penuh ekspresi, mulai dari bahagia, sedih, marah hingga galau.

(Ekpresi pemain Ketropak Tobong. Foto: Medcom/Syahrul Ramadhan)
Pentas Ketoprak Tobong menutup petualangan hari pertama bersama Xiaomi 17. Di hari kedua lanjut ke Solo melihat industri kain batik dan kain pantai di Desa Krajan, Mojolaban, Sukoharjo.
Berlokasi di tepian Sungai Bengawan Solo, berjejer kain-kain dengan beragam motif warna-warni membentuk pola yang memanjakan mata. Terik matahari membuat warna dari kain-kain tersebut semakin menyala.
Atraksi para pengrajin yang melempar kain untuk dijemur juga membuat semakin menarik dan tentunya memotret dengan Xiaomi 17 juga bisa langsung sat set berkat desainnya yan compact.

(Pekerja sedang menjemur kain pantai Foto: Medcom/Syahrul Ramadhan)
Lokasi terakhir ini yang gong banget! Mengunjungi tempat pembuatan gong di Desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo memakai Xiaomi 17 hasilnya gong banget.
Panasnya tempat para pengrajin gong ini menjadi tantangan tersendiri. Mulai dari menahan panas tempat pembakaran hingga serbuk abu yang bertebaran.
.jpg)
(Pengrajin gong sedang memanaskan gong. Foto: Medcom/Syahrul Ramadhan)
Perjalanan Joglo alias keliling Yogya dan Solo ini ditutup dengan melipir ke Ndalem Purwodiningratan untuk memotret Bregada atau prajurit Keraton Surakarta. Para Bregada ini tampil dengan seragam sesuai kesatuan masing-masing, seperti merah, hijau, biru, dan hitam, dengan bawahan lurik.
.jpg)
(Para Bregada atau prajurit Keraton Surakarta. Foto: Medcom/Syahrul Ramadhan)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News