Ilustrasi.
Ilustrasi.

Serangan Siber Berbasis AI Kian Canggih, Bagaimana Cara Perusahaan Menghadapinya?

Cahyandaru Kuncorojati • 22 Juli 2026 10:52
Ringkasnya gini..
  • AI kini dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk membuat phishing dan malware lebih cepat serta meyakinkan.
  • Survei Kaspersky menunjukkan 43 persen organisasi menilai peretas telah menggunakan AI untuk meningkatkan serangan.
  • Perusahaan disarankan mengintegrasikan AI ke dalam platform keamanan terpadu agar deteksi dan respons lebih efektif.
Jakarta: Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia keamanan siber kini menghadirkan tantangan baru bagi perusahaan. Di satu sisi, AI membantu mempercepat deteksi dan respons terhadap ancaman. 
 
Namun di sisi lain, teknologi yang sama juga dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk membuat serangan phishing, malware, hingga rekayasa sosial menjadi lebih cepat dan sulit dideteksi.
 
Fenomena tersebut mendorong organisasi untuk tidak hanya mengadopsi AI, tetapi juga memastikan implementasinya terintegrasi dengan sistem keamanan yang sudah ada. 

Menurut studi global Kaspersky 2026, hampir seluruh organisasi di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, Singapura, dan Vietnam, berencana memasukkan AI ke dalam operasional keamanan siber mereka.
 
Di saat yang sama, survei tersebut menunjukkan 43 persen organisasi meyakini pelaku kejahatan siber telah memanfaatkan AI untuk meningkatkan efektivitas serangan mereka. Bahkan, 21 persen responden menilai para peretas kini lebih unggul dalam mengadopsi teknologi baru dibanding organisasi yang menjadi targetnya.
 

AI Membuat Serangan Siber Semakin Cepat dan Meyakinkan

Pemanfaatan AI oleh pelaku ancaman kini tidak lagi terbatas pada eksperimen. Teknologi tersebut digunakan untuk mengotomatiskan berbagai tahapan serangan, mulai dari pengintaian target, pembuatan email phishing, hingga menghasilkan kode berbahaya yang lebih sulit dikenali sistem keamanan.
 
Kaspersky mencontohkan temuan tim risetnya terhadap kampanye RevengeHotels, yang menargetkan bisnis perhotelan di Amerika Latin. 
 
Dalam kampanye tersebut, pelaku menggunakan kode yang dihasilkan AI untuk meningkatkan efektivitas malware dan membuat konten phishing terlihat lebih meyakinkan dibandingkan metode sebelumnya.
 
Menurut Kaspersky, AI juga memangkas waktu yang dibutuhkan penyerang untuk menjalankan aksinya. Proses yang sebelumnya memerlukan keahlian teknis dan waktu lebih lama kini dapat dilakukan secara otomatis dengan biaya yang relatif rendah.
 

Sektor Keuangan dan Industri Hiburan Ikut Menjadi Sasaran

Peningkatan kemampuan AI juga mulai terlihat pada berbagai sektor industri. Sepanjang 2025, Kaspersky mencatat lebih dari 530 ribu upaya phishing keuangan di Asia Tenggara.
 
Thailand menjadi negara dengan jumlah serangan terbanyak, disusul Indonesia dengan 85.908 percobaan serangan, kemudian Malaysia, Vietnam, Singapura, dan Filipina.
 
Selain sektor keuangan, industri hiburan juga menghadapi tantangan baru berupa penyalahgunaan AI untuk membuat deepfake, penipuan konten digital, hingga membantu penyerang memetakan infrastruktur distribusi konten secara lebih cepat.
 

Cara Perusahaan Menghadapi Ancaman Siber Berbasis AI

Menurut Kaspersky, penggunaan AI dalam keamanan siber tidak cukup hanya dengan menambahkan fitur berbasis AI ke dalam sistem yang sudah ada. Perusahaan juga perlu memastikan seluruh data keamanan dapat terhubung dalam satu platform agar AI memiliki informasi yang cukup untuk mendeteksi ancaman secara akurat.
 
Beberapa langkah yang disarankan antara lain:
 
-Mengonsolidasikan data keamanan dari endpoint, identitas, cloud, dan jaringan ke dalam platform terpadu
-Memilih solusi AI yang terintegrasi dengan alur kerja keamanan, bukan sekadar menawarkan banyak fitur
-Memperhatikan biaya integrasi dan total biaya kepemilikan (TCO) sebelum mengadopsi platform AI
-Menyusun tata kelola AI yang selaras dengan regulasi dan kebijakan perusahaan
-Menerapkan implementasi AI secara bertahap dengan indikator keberhasilan yang dapat diukur
 

Integrasi Dinilai Lebih Penting Dibandingkan Sekadar Menambah Fitur AI

General Manager untuk ASEAN dan Asia Emerging Countries (AEC) Kaspersky, Simon Tung, menilai tantangan utama perusahaan saat ini bukan lagi soal apakah AI perlu digunakan, melainkan bagaimana teknologi tersebut diimplementasikan agar benar-benar meningkatkan efektivitas operasional.
 
Menurutnya, solusi AI yang berdiri sendiri justru berpotensi menambah kompleksitas apabila memerlukan konfigurasi manual yang rumit. Sebaliknya, AI yang terintegrasi langsung dalam proses deteksi, investigasi, dan respons dinilai lebih efektif membantu tim keamanan menghadapi ancaman yang berkembang semakin cepat.
 
Dengan semakin banyaknya pelaku ancaman yang memanfaatkan AI untuk mempercepat serangan, perusahaan diperkirakan akan semakin fokus membangun sistem keamanan yang mampu merespons ancaman secara otomatis sekaligus memperkuat kemampuan analis keamanan dalam mengambil keputusan.
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA