Piala Dunia FIFA 2026 akan memanfaatkan empat teknologi AI, dari SAOT, Smart Match Ball, AI-Enabled 3D Player Avatars, hingga robot keamanan berbasis AI.
Piala Dunia FIFA 2026 akan memanfaatkan empat teknologi AI, dari SAOT, Smart Match Ball, AI-Enabled 3D Player Avatars, hingga robot keamanan berbasis AI.

Ini Teknologi AI di Piala Dunia 2026, Bikin Pertandingan Lebih Akurat dan Aman

Lufthi Anggraeni • 28 Juni 2026 14:30
Ringkasnya gini..
  • Piala Dunia FIFA 2026 akan memanfaatkan teknologi AI untuk membantu pengambilan keputusan wasit, meningkatkan pengalaman penonton, serta memperkuat sistem keamanan.
  • Empat teknologi utama yang diterapkan meliputi Semi-Automated Offside Technology (SAOT), Smart Match Ball, AI-Enabled 3D Player Avatars, dan robot keamanan berbasis AI.
  • Kehadiran teknologi tersebut diharapkan membuat pertandingan berlangsung lebih akurat, transparan, efisien, dan aman selama turnamen di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Jakarta: Kecerdasan buatan (AI) akan memainkan peran yang lebih besar pada penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026 dibandingkan edisi sebelumnya. Teknologi ini tidak hanya dimanfaatkan untuk membantu wasit mengambil keputusan dengan lebih akurat.
 
Teknologi ini juga mendukung analisis pertandingan, meningkatkan pengalaman penonton, serta memperkuat sistem keamanan di sekitar stadion.  Sejumlah teknologi berbasis AI akan diterapkan selama turnamen berlangsung. 
 
Dari sistem pendeteksi offside semi-otomatis hingga robot keamanan, seluruh inovasi tersebut diharapkan mampu menciptakan pertandingan lebih adil, efisien, dan aman. 

Semi-Automated Offside Technology (SAOT)

Salah satu teknologi yang menjadi sorotan adalah Semi-Automated Offside Technology (SAOT). Sistem ini dirancang untuk membantu wasit dan Video Assistant Referee (VAR) dalam mengambil keputusan offside secara lebih cepat dan akurat melalui dukungan kecerdasan buatan.

SAOT bekerja menggunakan 12 kamera khusus yang dipasang di sekitar stadion untuk memantau pergerakan pemain dan bola secara real-time. Kamera tersebut mampu melacak hingga 29 titik data pada tubuh setiap pemain, termasuk kepala, tangan, kaki, dan bagian tubuh lain yang relevan dalam penentuan offside.
 
Data dikumpulkan sebanyak 50 kali per detik sehingga posisi pemain dapat diketahui dengan tingkat presisi yang tinggi. Apabila sistem mendeteksi potensi offside, peringatan akan dikirim secara otomatis kepada VAR.
 
Kendati demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan petugas VAR sebelum diteruskan kepada wasit di lapangan. Dengan bantuan AI, proses penentuan offside yang sebelumnya dilakukan secara manual kini dapat diselesaikan hanya dalam hitungan detik. 

Smart Match Ball

Piala Dunia 2026 juga akan menggunakan Smart Match Ball bernama Trionda yang dikembangkan Adidas. Bola pintar ini dilengkapi sensor Inertial Measurement Unit (IMU) yang ditempatkan di bagian tengah bola untuk mengirimkan data pergerakan secara real-time kepada sistem pertandingan dan VAR. 
 
Sensor tersebut mampu mendeteksi secara presisi kapan bola ditendang, disentuh, maupun berubah arah. Data dikirim hingga 500 kali per detik sehingga setiap pergerakan bola dapat direkam secara rinci dalam ruang tiga dimensi.
 
Informasi tersebut membantu menentukan titik umpan ketika terjadi situasi offside yang sangat tipis. Selain mendukung penentuan offside, Smart Match Ball juga dapat digunakan untuk meninjau insiden handball, sentuhan terakhir sebelum bola keluar lapangan, serta berbagai momen penting lainnya.
 
Kombinasi AI dan sensor pintar diharapkan membuat keputusan pertandingan semakin objektif dan mengurangi potensi kontroversi. 

AI-Enabled 3D Player Avatars

Teknologi AI-Enabled 3D Player Avatars memungkinkan setiap pemain memiliki model digital tiga dimensi yang dibuat melalui proses pemindaian tubuh sebelum turnamen dimulai. Model digital tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan akurasi sistem pelacakan pemain selama pertandingan berlangsung. 
 
Proses pemindaian hanya memerlukan waktu sekitar satu detik, tetapi mampu menangkap ukuran dan bentuk tubuh pemain secara presisi. Data tersebut kemudian diolah oleh AI sehingga sistem tetap dapat melacak pergerakan pemain, termasuk ketika tertutup pemain lain atau bergerak dalam kecepatan tinggi.
 
Hal ini membuat sistem offside semi-otomatis bekerja lebih akurat dibandingkan dengan sebelumnya. Teknologi ini juga meningkatkan pengalaman menonton. Saat terjadi keputusan offside, data yang digunakan VAR akan divisualisasikan dalam bentuk animasi tiga dimensi sehingga penonton dapat memahami alasan di balik keputusan wasit dengan lebih mudah, baik di stadion maupun melalui siaran televisi. 

Robot keamanan berbasis AI

Pemanfaatan AI pada Piala Dunia 2026 tidak hanya terbatas pada jalannya pertandingan. Teknologi ini juga diterapkan dalam sistem keamanan melalui penggunaan robot berbentuk anjing berkaki empat yang akan membantu petugas melakukan patroli dan pengawasan di sekitar stadion. 
 
Robot tersebut dibekali berbagai sensor, kamera, dan sistem kecerdasan buatan yang memungkinkan mereka menjelajahi area berisiko tanpa membahayakan petugas keamanan. Robot juga mampu mengirimkan video secara langsung ke pusat komando sehingga situasi dapat dipantau sebelum tindakan diambil.
 
Selain itu, perangkat ini dapat digunakan untuk memeriksa benda mencurigakan maupun area yang sulit dijangkau manusia. Penggunaan robot keamanan diharapkan meningkatkan efektivitas pengawasan selama Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA