Jakarta: Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia pengembangan software kembali menunjukkan potensi baru. Kali ini, eksekutif Google berhasil membawa game strategi klasik Command & Conquer: Generals – Zero Hour ke iPhone, iPad, dan Mac dengan bantuan model AI Claude milik Anthropic.
Mengutip Digital Trends, proyek tersebut dikerjakan oleh Ammaar Reshi, Lead Product and Design di Google AI Studio. Melalui unggahannya, Reshi mengungkap bahwa game strategi real-time (RTS) yang pertama kali dirilis pada tahun 2003 itu kini dapat berjalan secara native pada perangkat Apple berbasis ARM64 tanpa menggunakan emulator maupun layanan cloud gaming.
Keberhasilan tersebut menarik perhatian komunitas pengembang karena memperlihatkan cara AI dapat dimanfaatkan untuk mempercepat proses porting software yang selama ini dikenal rumit dan memakan waktu.
Berbeda dengan sebagian besar upaya menjalankan game PC lama di perangkat modern melalui emulasi, proyek ini menggunakan mesin asli Command & Conquer: Generals – Zero Hour yang telah dikompilasi ulang agar dapat berjalan langsung pada arsitektur ARM64 milik Apple.
Artinya, game tidak dijalankan melalui lapisan emulasi maupun streaming dari server cloud. Seluruh proses berlangsung secara lokal di perangkat sehingga performa dan respons permainan dapat dipertahankan lebih optimal.
Reshi juga menjelaskan bahwa proyek tersebut memanfaatkan source code yang sebelumnya dirilis Electronic Arts (EA) di bawah lisensi GPL. Selain itu, ia membangun port tersebut di atas fondasi berbagai proyek modernisasi yang sebelumnya telah dikembangkan komunitas open source.
Kendati AI memainkan peran penting, proses porting tidak sesederhana meminta model bahasa menjalankan game lama di perangkat baru. Salah satu tantangan terbesar adalah menyesuaikan sistem berkas (file system). Engine asli Command & Conquer dirancang untuk sistem operasi Windows yang memiliki struktur file dapat ditulis secara bebas.
Sebaliknya, aplikasi iOS berjalan di lingkungan lebih tertutup sehingga lokasi penyimpanan save game, cache, maupun file konfigurasi harus dipindahkan ke direktori yang sesuai dengan aturan sistem operasi Apple.
Tantangan lain muncul pada sisi grafis. Game asli menggunakan DirectX 8, sedangkan perangkat Apple mengandalkan API grafis Metal. Untuk menjembatani perbedaan tersebut, proyek ini memanfaatkan DXVK dan MoltenVK sehingga perintah grafis DirectX diterjemahkan terlebih dahulu ke Vulkan, kemudian dikonversi lagi menjadi Metal.
Pendekatan tersebut memungkinkan engine lama tetap dapat merender grafis di perangkat Apple modern. Salah satu aspek yang paling banyak mengalami penyesuaian adalah sistem kendali permainan. Command & Conquer: Generals – Zero Hour sejak awal dirancang untuk dimainkan menggunakan mouse dan keyboard.
Agar nyaman dimainkan di layar sentuh, Reshi menambahkan berbagai kontrol baru yang disesuaikan dengan karakteristik game strategi. Pemain dapat memilih unit melalui sentuhan, melakukan drag untuk membuat kotak seleksi, menggunakan dua jari untuk menggeser tampilan peta, melakukan pinch-to-zoom, hingga menjalankan aksi tertentu melalui long press.
Seluruh kontrol tersebut dirancang agar pengalaman bermain tetap mendekati versi PC meski tanpa mouse. Selain mode Campaign, port ini juga mendukung mode Skirmish dan Generals Challenge, dua mode permainan yang menjadi favorit banyak penggemar seri tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan AI di industri game kerap menuai kritik karena dianggap menghasilkan konten berkualitas rendah atau sekadar membanjiri toko aplikasi dengan game generatif.
Namun, proyek ini menunjukkan pendekatan yang berbeda. AI dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan teknis rumit , sementara hasil akhirnya tetap dibangun di atas source code resmi serta kontribusi komunitas pengembang.
Reshi memberikan kredit kepada berbagai proyek open source lebih dahulu melakukan modernisasi engine Command & Conquer. Dengan kata lain, keberhasilan port ini bukan semata hasil kerja AI, melainkan kombinasi antara source code resmi EA, kontribusi komunitas, serta bantuan Claude dalam mempercepat proses adaptasi ke platform Apple.
Keberhasilan menjalankan game berusia lebih dari dua dekade secara native di iPhone, iPad, dan Mac memperlihatkan bagaimana AI mulai menjadi alat bantu yang efektif bagi para pengembang. Alih-alih menggantikan proses pengembangan sepenuhnya, model seperti Claude dapat mempercepat debugging, adaptasi kode lintas platform, maupun penyelesaian masalah teknis yang memerlukan banyak penyesuaian manual.
Bagi industri game, pendekatan ini juga membuka peluang baru dalam melestarikan game klasik agar tetap dapat dimainkan di perangkat modern tanpa harus bergantung pada emulator. Selama tersedia source code dan dukungan komunitas, AI berpotensi membantu mempercepat proses modernisasi berbagai judul lama yang sebelumnya sulit diadaptasi ke platform baru.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan