Gelar Sarjana tak Jadi Syarat Melamar di Apple, Google dan IBM

Ellavie Ichlasa Amalia 24 September 2018 13:54 WIB
teknologiapplegoogle
Gelar Sarjana tak Jadi Syarat Melamar di Apple, Google dan IBM
Google kini tak lagi mengharuskan calon pekerjanya lulus kuliah. (Photo by LOIC VENANCE / AFP)
Jakarta: Belum lama ini, situs ulasan pekerjaan Glassdoor membuat daftar berisi 15 perusahaan yang tidak menjadikan gelar sarjana sebagai persyaratan untuk masuk ke perusahaan. Peruasahaan-perusahaan teknologi raksasa seperti Apple, Google dan IBM masuk ke dalam daftar tersebut. 

"Kualifikasi akademis akan tetap diperhitungkan dan memang tetap menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menilai seorang calon pekerja. Namun, itu tidak akan menjadi penghalang bagi seseorang untuk untuk masuk ke perusahaan," kata Maggie Stilwell, Managing Partner for Talent dari Ernst and Young pada Huffington Post

Dengan kata lain, perusahaan akan mencari kandidat yang memiliki kemampuan dan pengalaman yang paling sesuai dengan pekerjaan yang mereka lamar. Sebagian besar kandidat yang lulus tes mungkin akan memiliki gelar sarjana. Namun, sebagian dari kandidat yang lolos juga mungkin tidak lulus kuliah, lapor Quartz


Beberapa tahun lalu, Google mengakui bahwa nilai ujian di kuliah tidak terlalu mencerminkan performa seseorang dalam pekerjaan. Sementara di IBM, sekitar 15 persen dari karyawan baru di Amerika Serikat tidak lulus kuliah.

CEO IBM Ginni Rometty mengatakan, sekolah vokasi dan pengalaman bekerja akan memberikan pelatihan yang lebih relevan bagi orang-orang yang bekerja di bidang teknologi daripada pelajaran yang diberikan di bangku kuliah. 

Ini bukan berarti kuliah tidak lagi penting. Bagi banyak orang, mereka mempelajari kemampuan yang diperlukan untuk masuk ke dunia kerja di kuliah. Namun, mencegah orang-orang yang juga memiliki kemampuan yang sama hanya karena mereka tidak mempelajari kemampuan itu di universitas bukanlah ide bagus untuk perusahaan. 

Jadi, seseorang yang belajar pemprograman secara otodidak memiliki kesempatan yang sama untuk diterima kerja di perusahaan teknologi dengan orang yang baru saja lulus kuliah di jurusan Informatika. 



(ELL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.