Ada perusahaan yang memerlukan waktu bertahun-tahun agar mereka bisa menerapkan digitalisasi demi terus bersaing dengan kompetitornya, atau pemain baru yang berasal dari industry yang berbeda.
Salah satu tantangan yang dihadapi perusahaan adalah kesiapan semua karyawan, sampai level Presiden atau CEO dalam mengadopsi digital.
“Dahulu, perusahaan hanya mengembangkan layanan digital seperlunya. Mereka menggabungkan beberapa fitur atau aspek yang sudah ada, disebutnya mash up,” kata Phil Andrews, VP, Enterprise Sales and Strategic Business Development, Red Hat.
Sekarang, Red Hat melihat tantangan perusahaan saat ini adalah mengubah organisasi mereka menjadi digital native. Ini berarti, perusahaan menerapkan digitalisasi yang menyeluruh. Tujuannya bukan hanya mendapatkan keuntungan dan menambah nilai bisnis, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap internal perusahaan dari segi non-profit.
Dalam Red Hat Partner Conference APAC 2018, Phil menyebutkan bahwa ada beberapa tuntutan yang harus dipenuhi perusahaan demi menjadi digital native.
“Sebelum melihat tuntutan itu, perusahaan juga harus melihat kesiapannya sendiri, apakah mereka siap mengadopsi arsitektur generasi berikutnya. Mereka juga harus melihat kultur internal perusahaan, serta bersedia mengevaluasi setiap proses digitalisasinya.”
Untuk itu, yang menjadi dasar keberhasilan digitalisasi adalah pengukuran kinerja atau KPI yang bisa mendukung transformasi digital. Tidak hanya untuk satu departemen, KPI ini juga berlaku untuk departemen lainnya.
“Bukan hanya memenuhi target KPI, tetapi bagaimana itu akan berdampak ke seluruh perusahaan, bahkan sampai pimpinan.”
Tuntutan pertama adalah departemen IT yang telah dioptimisasi. Phil menilai ini menjadi kunci utama perusahaan dalam mengadopsi digital. Bukan cuma soal menggunakan infrastruktur canggih, tetapi juga setiap karyawan di dalamnya bisa menjalankan peran masing-masing secara maksimal. Mereka tahu arah perusahaan dan apa yang diinginkan.
“Setelah optimal, tim IT bisa melakukan integrasi sistem ke platform apa saja yang mereka inginkan dengan lincah. Ini akan menghemat waktu tanpa harus meninggalkan konsumen, dan pastinya hemat biaya.”
Integrasi yang lincah ini harus didukung dengan penerapan hybrid cloud. Ini berarti selain memasang platform di penyedia cloud pihak ketiga, perusahaan juga punya sistem internal yang dapat berkomunikasi dengan cloud eksternal secara cepat. Contoh yang efektif adalah saat perusahaan melakukan migrasi sistem ke layanan lainnya.
“Dari yang biasanya perlu waktu paling cepat satu bulan, sekarang bisa dilakukan dalam hitungan jam.”
Tentunya, tim IT harus memastikan proses migrasi atau hal lainnya ini berjalan aman. Mereka harus menciptakan sistem keamanan yang tepat untuk meyakinkan konsumen bahwa apa yang mereka simpan atau pakai di perusahaan aman dari ancaman.
Tuntutan terakhir adalah pengembangan yang tidak terhenti. “Pada akhirnya perusahaan akan memanfaatkan digitalisasi untuk berjualan. Sama seperti transformasi digital, itu juga merupakan proses atau perjalanan. Pegawai harus paham produk yang mereka pasarkan, dan bisa mendengarkan sekaligus menjawab solusi yang mereka inginkan.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News