Namun, di Indonesia, penerapan AI masih menghadapi tantangan besar. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh PwC dalam 27th Annual Global CEO Survey, sekitar 53% CEO di Indonesia melaporkan bahwa perusahaan mereka belum mengintegrasikan AI generatif dalam operasionalnya. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata di wilayah Asia Pasifik, yang hanya 41%.
Dengan munculnya semakin banyak pemainbaru dalam dunia enterprise AI, tantangan utama yang dihadapi organisasi adalah bukan hanya mengejar ketertinggalan atau menyamai standar industri saat ini, tetapi juga menciptakan keunggulan kompetitif yang nyata dan mampu membedakan mereka dari kompetitor.
Bagaimana perusahaan mempersiapkan diri untuk menghadapi era yang terus berkembang?
Masa depan AI diprediksi akan sangat bergantung pada ekosistem open source. Dengan teknologi yang telah melampaui fungsi otomatisasi dasar, AI kini menghadirkan aplikasi yang jauh lebih kompleks seperti analitik prediktif, penciptaan konten, hingga pengambilan keputusan strategis. Bagi perusahaan dari berbagai sektor, mengikuti perkembangan ini menjadi sangat krusial agar tetap relevan dalam persaingan global.Walaupun tingkat adopsi AI bervariasi di antara perusahaan, open source menyediakan peluang besar untuk memulai babak baru dalam inovasi. Melalui pendekatan ini, perusahaan dapat memanfaatkan fleksibilitas, kolaborasi, dan akses terhadap teknologi terkini tanpa batasan yang sering kali ditemukan pada solusi tertutup. Melihat ke depan, ada tiga tren besar yang diperkirakan akan mendominasi dan membawa perubahan besar bagi perusahaan-perusahaan di kawasan Asia Pasifik dalam waktu dekat.
Menggali manfaat dari penggunaan open source dalam AI
Dalam beberapa tahun terakhir, proyek AI generatif berbasis open source mengalami peningkatan pesat, dengan lonjakan mencapai 98% sejak tahun lalu. Kontribusi terbesar datang dari negara-negara seperti India, Jepang, dan Singapura, menandakan betapa pentingnya kolaborasi serta akses yang lebih luas untuk teknologi-teknologi mutakhir seperti AI.Dengan tren ini, diperkirakan aktivitas AI generatif akan semakin berkembang di tingkat global. Adopsi platform AI open source, model berlisensi terbuka, dan berbagai alat inovatif lainnya memberikan peluang untuk mendemokratisasi inovasi teknologi. Ini memastikan bahwa keuntungan-keuntungan yang ditawarkan oleh AI, seperti kerangka kerja serbaguna dan alat pengembangan canggih dan tidak lagi terbatas hanya pada segelintir perusahaan besar, melainkan tersedia untuk berbagai organisasi dengan skala yang beragam.
Berkat solusi open source, perusahaan kecil sekalipun dapat bersaing di panggung global dengan lebih percaya diri. Teknologi ini menawarkan fleksibilitas luar biasa dalam menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan biaya, perlindungan data, dan kurangnya keterampilan teknis di dalam tim.
Komunitas open source yang dinamis dan kolaboratif memungkinkan perusahaan untuk memodifikasi solusi sesuai kebutuhan spesifik mereka tanpa mengorbankan kontrol terhadap data yang mereka miliki. Selain itu, dengan semakin banyak pihak yang berkontribusi dalam komunitas ini, potensi masalah seperti bug atau celah keamanan dapat ditemukan dan diselesaikan lebih cepat.
Pada akhirnya, open source tidak hanya menciptakan ruang kompetisi yang lebih adil, tetapi juga meningkatkan kepercayaan perusahaan terhadap hasil yang didukung oleh AI, sekaligus membuka jalan bagi inovasi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Hybrid Cloud menjadi standar perkembangan teknologi
Hybrid cloud kini menjadi standar utama untuk mendukung bisnis di era pelanggan ini. Bagi perusahaan di Asia Pasifik, kecepatan, fleksibilitas, dan inovasi adalah prioritas utama yang dapat dicapai dengan menyederhanakan integrasi AI ke dalam operasional sehari-hari. Pendekatan ini memastikan operasional tetap konsisten di seluruh tim, sekaligus memberikan fleksibilitas untuk menjalankan workload AI di mana saja, menjadikan bisnis lebih adaptif.Di Indonesia, sektor layanan keuangan telah memimpin transformasi ini. Bank lokal dan regional telah mengadopsi hybrid cloud untuk mendukung workload AI mereka, sejalan dengan ambisi Indonesia menjadikan AI sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi digital. Diperkirakan, AI akan berkontribusi sebesar US$366 miliar pada ekonomi Indonesia pada tahun 2030.
Untuk memaksimalkan potensi ini, perusahaan di kawasan Asia Pasifik harus bekerja sama dengan penyedia teknologi terpercaya yang dapat menyediakan infrastruktur dan keahlian untuk melangkah maju tanpa perlu pengembangan yang berlebihan.
Perkembangan Teknologi Red Hat
Tanobel Indonesia, sejak berdiri pada 2003, terus mengembangkan merek air minumnya seperti Cleo, Anda, Vio, dan SuperO2, dengan komitmen menyediakan produk berkualitas tinggi. Namun, ketergantungan pada sistem ERP dan kebutuhan penyimpanan data yang lebih efisien menghadirkan tantangan besar, terutama dalam implementasi data lake untuk analitik.Untuk mengatasi kendala ini, Tanobel bekerja sama dengan Red Hat dan mengadopsi OpenShift Virtualisation. Solusi ini memungkinkan mereka mengintegrasikan aplikasi cloud dengan beban kerja lama pada satu platform terpadu. Dengan Red Hat Enterprise Linux yang terintegrasi, perusahaan dapat mengurangi biaya operasional sekaligus meningkatkan efisiensi sistemnya.
Melalui modernisasi infrastruktur IT dengan OpenShift Platform Plus, Tanobel berhasil memindahkan sebagian besar beban kerjanya ke container, mendukung data lake Dremio, dan mengelola hampir 300 layanan mikro baru. Solusi ini juga tetap mendukung aplikasi dan database tradisional yang belum dikontainerisasi, memperkuat operasional mereka di masa depan.
Tanobel memanfaatkan skalabilitas Red Hat untuk meningkatkan kinerja, terutama dalam penggunaan data lake Dremio. OpenShift memungkinkan penambahan executor pods secara instan, menghilangkan proses rumit seperti pembuatan VM dan konfigurasi manual pada sistem lama.
Dengan infrastruktur baru, downtime berkurang, resiliensi meningkat, dan aplikasi dapat memperbaiki diri secara otomatis. Misalnya, meski dua disk drive gagal, sistem tetap berjalan tanpa kehilangan data. Keamanan juga lebih terjamin dengan update reguler yang melindungi dari ransomware.
Red Hat juga meningkatkan alur kerja pengembang melalui CI/CD, memastikan konsistensi dengan pengujian di lingkungan yang identik. Teknologi ini menyederhanakan pengembangan, meningkatkan kualitas kode, dan efisiensi tim. Dukungan cepat dan pelatihan Red Hat membantu tim Tanobel beradaptasi dengan cepat ke OpenShift, memungkinkan pengembangan layanan mikro baru dan integrasi cloud untuk masa depan yang lebih modern dan fleksibel.
(Agapytus Edvaldo Sugiharto)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News