Google kena denda dari badan regulator Prancis. (Photo by JUSTIN SULLIVAN / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / AFP)
Google kena denda dari badan regulator Prancis. (Photo by JUSTIN SULLIVAN / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / AFP)

Google Kena Denda Lagi, Kenapa?

Teknologi google
Ellavie Ichlasa Amalia • 22 Januari 2019 10:36
Jakarta:Badan perlindungan data Prancis, CNIL, mengenakan denda sebesar EUR50 juta (Rp807,8 miliar) pada Google karena dianggap tidak memenuhi peraturan perlindungan data umum atau GDPR.
 
Ini adalah denda GDPR terbesar yang pernah ditetapkan oleh regulator Eropa. Ini juga merupakan pertama kalinya salah satu perusahaan teknologi raksasa seperti Google gagal memenuhi peraturan yang mulai berlaku pada Mei tahun lalu.
 
CNIL berkata, mereka memberikan denda pada Google karena perusahaan internet itu gagal untuk memberikan informasi yang cukup terkait peraturan penggunaan data mereka. Selain itu, Google juga dianggap tidak memberikan kebebasan yang cukup tentang bagaimana pengguna membiarkan data mereka digunakan. Menurut CNIL, Google belum menyelesaikan masalah ini hingga sekarang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


GDPR memaksa perusahaan untuk mendapatkan "izin eksplisit" dari pengguna sebelum mereka boleh mengumpulkan data pengguna. Itu artinya, perusahaan harus meminta izin secara eksplisit, memudahkan pengguna untuk menolak persyaratan dari perusahaan jika mereka tidak mau, lapor The Verge.
 
Meskipun denda sebesar EUR50 juta terdengar besar, tapi angka itu kecil jika dibandingkan dengan denda maksimal yang bisa dikenakan berdasarkan GDPR. Sebuah perusahaan bisa dikenakan denda maksimal sebesar empat persen dari total pendapatan tahunan mereka jika mereka melakukan kesalahan besar.
 
Bagi Google, yang mendapatkan USD33,74 miliar (Rp479 triliun) pada kuartal lalu, denda maksimal yang bisa mereka harus bayarkan bisa mencapai miliaran dollar.
 

(ELL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi