Peningkatan adopsi smartphone dan transformasi digital turut dorong peningkatan kerentanan siber.
Peningkatan adopsi smartphone dan transformasi digital turut dorong peningkatan kerentanan siber.

Hacker Makin Suka Serang Pengguna Ponsel

Teknologi cyber security kaspersky
Lufthi Anggraeni • 16 Oktober 2018 19:41
Jakarta: Kaspersky Lab menyebut pesatnya kenaikan tingkat adopsi smartphone di berbagai negara, termasuk Indonesia, turut mendorong bertambahnya kerentanan pada perangkat ini. Naiknya jumlah serangan siber pada smartphone didorong oleh penggunaan smartphone untuk berbagai aktivitas.
 
"Smartphone kini punya akses, terutama untuk autentikasi dua langkah, sebagai pintu untuk pengembalian akun saat pengguna kehilangan password, aplikasi m-banking, semua ada di smartphone. Hal ini berbahaya, sebab bisa disalahgunakan untuk perampokan," ujar Director Global Research & Analysis Team APAC Vitaly Kamluk.
 
Kamluk menyebut, smartphone tidak aman sama saja seperti memberikan kunci berbagai akun digital pengguna, seperti m-banking yang telah umum digunakan masyarakat di era digital ini, kepada peretas. Dengan penyebaran malware yang semakin canggih, ini menjadi alasan lain mengapa smartphone menjadi target.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Guna memperkecil peluang smartphone terjangkiti malware, Kamluk menyarankan pengguna tidak mengunduh dan memasang aplikasi karya developer yang belum dikenal. Selain itu, pengguna juga disarankan untuk tidak melakukan aktivitas yang melibatkan informasi rahasia di peramban smartphone saat terhubung dengan jaringan internet publik.
 
Disinggung soal pasar Indonesia, Kamluk menyebut, saat ini jumlah serangan siber di Indonesia masih tidak terlalu banyak. Salah satu alasannya karena Indonesia dinilai belum terlalu penting di mata peretas. Indonesia tidak memiliki banyak server penyimpan informasi berharga, layaknya negara tetangga, Singapura.
 
Singapura mendapatkan perhatian cukup tinggi dari peretas, lanjut Kamluk, karena merupakan tempat berkumpulnya sejumlah penyedia layanan internet di wilayah Asia. Itu artinya, Singapura memiliki banyak server.
 
Namun, hal ini dinilai masih dapat berubah, tambah Territorial Manager Kaspersky Lab SEA Dony Koesmandarin. Meski kurun waktu perubahan itu masih tidak dapat diprediksi.
 

(ELL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif