Huawei mengumumkan akan meningkatkan investasi di bidang jaringan 5G.
Huawei mengumumkan akan meningkatkan investasi di bidang jaringan 5G.

Huawei Bakal Tambah Investasi 5G

Teknologi huawei
Lufthi Anggraeni • 25 Juni 2019 11:27
Jakarta: Huawei mengumumkan akan meningkatkan investasi di bidang jaringan 5G, meski tengah menghadapi larangan dari Amerika Serikat untuk produknya. Huawei juga menekankan bahwa keamanan siber dan privasi merupakan prioritas utama bagi perusahaannya.
 
Tidak hanya masuk dalam daftar hitam pemerintah Amerika Serikat pada bulan Mei lalu, nama Huawei juga tercantum pada daftar entitas pemerintah negara yang dipimpin Presiden Donald Trump tersebut, seperti laporan CNET.
 
Selain itu, Presiden Trump juga menandatangani perintah eksekutif terkait larangan untuk Huawei sebagai bentuk kekhawatiran atas keamanan nasional karena Huawei memiliki hubungan erat dengan pemerintah Tiongkok, meski hal ini dibantah oleh Huawei.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pada pertemuan grup pengguna tahunan Huawei di Wuzen, Zheijang, Tiongkok, CEO Huawei Carrier Ryan Ding menyebut bahwa perusahaannya akan terus menyediakan produk 5G dan bekerja sama dengan operator untuk membangun dunia yang sepenuhnya terhubung dan cerdas.
 
Keputusan untuk meningkatkan investasi pada jaringan 5G ini didasarkan oleh penilaian bahwa jaringan ini merupakan teknologi utama guna mencapai tujuan tersebut. Huawei juga menyebut akan memastikan keamanan jaringan 5G operator dengan produk yang aman dan perangkat terpercaya.
 
Pada akhir pekan lalu, Federal Communications Commissioner Geoffrey Starks menyebut bahwa pemerintah Amerika Serikat seharusnya menghentikan dukungan produk Huawei dan telekomunikasi asal produsen Tiongkok lain dari jaringan di Amerika Serikat.
 
Huawei juga dilaporkan memutuskan kerja sama dengan kantor penelitian dan pengembangannya di Amerika Serikat, Futurewei Technologies, yang berkantor pusat di Santa Clara, California.
 
Menurut laporan, anak perusahaan Huawei di bidang R&D ini memindahkan pegawainya ke sistem TI baru. Selain itu, anak perusahaan Huawei ini juga melarang pegawai untuk memasuki kantor dan menggunakan merek atau logo Huawei dalam berkomunikasi.
 
Hingga saat ini, Huawei masih enggan memberikan komentar terkait dengan informasi ini. Sementara itu pada bulan Januari 2019 lalu, sejumlah teknologi karya Futurewei dilaporkan tidak dapat dikirim kembali kepada Huawei di Tiongkok, karena Commerce Department menolak perpanjangan lisensi ekspor Futurewei.
 
Sementara itu, larangan Amerika Serikat, yang muncul enam bulan setelah pelarangan 5G Huawei di Australia pada bulan Agustus 2018, diperkirakan menyebabkan kerugian sebesar USD30 miliar (Rp423,4 triliun), Meski CEO Ren Zhengfei mengaku tidak terlalu mengkhawatirkannya.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif