IDC memprediksi distribusi smartphone akan meningkat akibat pemberlakuan regulasi IMEI pada tahun 2020.
IDC memprediksi distribusi smartphone akan meningkat akibat pemberlakuan regulasi IMEI pada tahun 2020.

2020, Pengiriman Ponsel Indonesia Diprediksi Naik 7%

Teknologi teknologi
Lufthi Anggraeni • 29 November 2019 21:09
Jakarta: Pada bulan Oktober lalu, tiga kementerian resmi mengesahkan Peraturan Menteri tentang pemblokiran ponsel ilegal, atau Black Market (BM) melalui nomor International Mobile Equipment Identity (IMEI). Peraturan ini baru akan berlaku pada bulan April 2020 mendatang.
 
Sebagai dampak pemberlakukan regulasi ini, Market Analyst IDC Indonesia Risky Febrian memprediksi distribusi smartphone di Indonesia akan mengalami peningkatan sebesar tujuh persen pada tahun 2020 mendatang.
 
“IDC memprediksi di tahun 2020, setelah ditetapkannya kebijakan ini pada bulan April, akan ada lonjakan shipment yang cukup tinggi dibandingkan pada tahun 2019, sekitar tujuh persen secara total market smartphone di Indonesia,” ujar Risky.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Peningkatan sebesar tujuh persen ini dinilai sebagai angka yang tergolong tinggi, mengingat rata-rata pertumbuhan distribusi smartphone Indonesia per tahunnya hanya mencapai tiga hingga empat persen.
 
Pembatasan peredaran ponsel ilegal ini, jelas Risky, menjadi membuka peluang besar bagi merek lain untuk mengisi kekosongan yang disebabkan oleh smartphone ilegal yang meninggalkan pasar Indonesia.
 
Namun, peluang ini juga akan diiringi dengan tantangan bagi seluruh merek smartphone di Indonesia, untuk meningkatkan jumlah penjualan. Semua produsen diprediksi IDC akan meningkatkan produksi guna mengantisipasi kekosongan akibat kepergian ponsel ilegal.
 
Prediksi ini diakui Risky didasarkan pada hasil pengumpulan informasi menyoal target produksi dari masing-masing vendor smartphone, tidak hanya di Indonesia, namun juga vendor global.
 
Namun, IDC menilai peluang yang dihadirkan oleh penerapan regulasi ini masih belum cukup mampu untuk memungkinkan vendor smartphone lokal untuk berkompetisi dengan vendor global.
 
Risky menyebut baru sekitar dua juta vendor yang mampu bertahan dan berkompetisi di pasar smartphone. Sayangnya, pasar produk dengan rentang harga Rp1 juta hingga Rp2 juta telah disesaki oleh banyak vendor, menyebabkan kompetisi di ranah ini semakin sulit, terutama untuk vendor lokal.
 
Sementara itu, realme sebagai pendatang baru di pasar Indonesia pun disebut Risky tidak lepas dari tantangan ini. Namun hingga saat ini, IDC menilai realme cukup agresif dalam menghadirkan produk serta promosi menarik untuk menarik minat konsumen Indonesia terhadap produknya.
 
Agresivitas realme ini selama kuartal ketiga tahun 2019 dalam hal distribusi perangkatnya di Indonesia ini dinilai IDC cukup baik, sehingga perusahaan riset yang melakukan perhitungan untuk pengiriman tersebut menempatkan realme di posisi keempat merek smartphone teratas di Indonesia.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif