Country Manager Red Hat Indonesia Rully Moulany menjelaskan bahwa automasi di industri manufaktur atau Automation dapat membantu mempercepat proses dan membangun atau merubah lingkungan, serta dapat membangun workflow bersifat continuous integration, continuous delivery, dan continuous deployment.
Rully juga menjelaskan bahwa automasi tidak hanya dapat dimanfaatkan oleh industri manufaktur, tapi juga industri lain yang memiliki proses yang berulang atau repetitif. Namun sebagian besar masyarakat lebih sering mendengar istilah DevOps.
“DevOps adalah pendekatan yang mempercepat proses di mana sebuah ide (seperti fitur baru di software, permintaan enhancement, atau perbaikan bug) bisa beralih dari environment pengembangan ke deployment dalam produksi yang mana value kepada pengguna dapat segera terealisasikan,”ujar Rully.
Rully menambahkan pendekatan ini membutuhkan komunikasi dan kolaborasi secara terus menerus dari tim pengembangan dan tim operasional. Namun, ranah transformasi digital juga memiliki istilah lain yang serupa yaitu DevOps Automation.
Istilah ini mewakili tambahan teknologi yang melakukan berbagai task yang mengurangi campur-tangan manusia dan memfasilitasi feedback antara tim operasional dengan tim pengembangan. Dengan begitu, mereka bisa lebih mengembangkan aplikasi secara berulang, lalu menerapkan aplikasi tersebut dengan lebih cepat.
Mengingat banyaknya istilah yang kerap membingungkan masyarakat, Red Hat mencoba memperkenalkan istilah ini. Sebab bisnis digital membutuhkan otomasi, dan pendekatan automasi pada skala enterprise dapat membantu menghemat waktu, meningkatkan kualitas, dan mengurangi biaya.
Saat ini, Red Hat menilai semakin banyak perusahaan yang sadar bahwa menggunakan tools yang tak terkoneksi dan ad-hoc untuk mengelola infrastruktur IT dan menerapkan software, akan sangat membebani anggaran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News