Kartu grafis NVIDIA GTX 1080 Ti. (CNET)
Kartu grafis NVIDIA GTX 1080 Ti. (CNET)

Tren Uang Kripto Ambruk, NVIDIA Terancam Digugat

Teknologi nvidia hardware
Cahyandaru Kuncorojati • 04 Januari 2019 14:43
Jakarta: Produsen kartu grafis NVIDIA belakangan dikabarkan terancam menerima gugatan hukum dari para investornya. Hal ini dilakukan dengan gugatan bahwa NVIDIA telah memberikan janji menyesatkan terkait bisnis di tren uang kripto.

Dikutip dari Tom's Hardware, bahwa firma hukum The Schall mengajak para investor yang sempat menanamkan saham di NVIDIA saat tren uang kripto untuk mengajukan gugatan ganti rugi karena merasa NVIDIA gagal menepati janjinya.

Seperti diketahui di tahun 2018 nilai uang kripto ambruk. Saat tren uang kripto populer, perangkat kartu grafis sangat laku keras dan sempat langka di pasar. Perangkat ini menjadi alat untuk menambang uang kripto atau disebut cryptomining.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Produk NVIDIA sempat langka di pasar dan harganya meroket sehingga mengguncang bisnis mereka. CEO NVIDIA Jensen Huang saat itu meyakinkan investor atau pemegang saham bahwa mereka bisa mengendalikan kondisi ini sehingga bisnis NVIDIA tetap sehat. Namun, saat tren uang kripto ambruk, banyak produk kartu grafis NVIDIA bekas pakai yang beredar di pasar dijual murah, menyebabkan pasar oversupply. NVIDIA dan para investor atau pemegang saham pun dikabarkan merugi.

Akhirnya firma bantuan hukum The Schall mengajak para investor dan pemegang saham yang diklaim sudah merugi hingga USD100.000 atau senilai sekitar Rp1,4 triliun untuk bersama mengajukan gugatan ganti rugi.

Dikutip dari situs Silicon Valley Business Journal, SoftBank Group yang memiliki saham di NVIDIA juga berenca melepasnya dalam jumlah besar. CEO NVIDIA, Jensen Huang, juga dikabarkan sudah menjual sahamnya dengan keuntungan hingga USD18 juta.

Di Q4 2018 nilai saham NVIDIA disebut anjlok sebesar 54 persen dan menjadi performa bisnis mereka yang terburuk selama ini.

Berbeda dari NVIDIA yang berusaha menekan harga produknya agar tidak meroket saat langka di pasar. AMD justru memproduksi lebih banyak produk saat tren uang kripto meningkat sehingga masih mengantongi keuntungan.


(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi