VP of Product Netflix Todd Yellin
VP of Product Netflix Todd Yellin

Personalisasi dan Algoritma, Senjata Netflix Raih 138 Juta Pengguna

Teknologi teknologi netflix corporate transformasi digital
Mohammad Mamduh • 08 November 2018 19:32
Jakarta: Personalisasi merupakan salah satu senjata utama Netflix memikat hati konsumen. Meskipun punya banyak film atau serial yang menarik, tantangannya adalah bagaimana para pengguna mendapatkan film yang sesuai dengan selera.
 
Menampilkan ribuan film dalam satu halaman utama Netflix bukan solusi bagus untuk membuat pengguna betah menonton.
 
Tantangan tersebut dijawab oleh VP of Product Netflix Todd Yellin, dalam ajang See What’s Next: Asia. Memanfaatkan algoritma, Netflix menciptakan personalisasi yang diklaim akurat untuk masing-masing individu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Algoritma adalah DNA Netflix,” ungkap Todd. “Kami bukan perusahaan film, kami bukan perusahaan teknologi. Kami adalah keduanya.”
 
Algoritma memang berperan penting dalam menentukan, menemukan, dan memberikan rekomendasi kepada pengguna Netflix.
 
Begitu personal sampai Netflix mengklaim satu profil tidak akan sama dengan profil lain, walau berada dalam satu akun. Bahkan, ini berlaku kepada pasangan suami istri yang telah hidup bersama belasan tahun.
 
“Saat kami bertransformasi dari DVD kelayananstreaming, algoritma memegang peranan yang sangat besar pada Netflix.” Tantangan yang mereka hadapi adalah bagaimana memberikan referensi yang tepat untuk pengguna di seluruh dunia. Todd menilai bahwa hal ini belum pernah dilakukan sepanjang sejarah.
 
Algoritma Netflix berkembang seiring dengan minat pengguna. Seperti pembelajaran mesin, algoritma mempelajari berbagai aspek ketika pengguna menonton.
 
Personalisasi dan Algoritma, Senjata Netflix Raih 138 Juta Pengguna
 
Tidak hanya pada judul dan genre film, algoritma ini melihat referensi dari poster dan referensi visual lain yang ada di dalam film. Satu film tidak hanya punya satu poster.
 
“Ibarat Anda sebagai studio film, akan meminta agensi iklan terbaik menciptakan poster paling menarik.”
 
“Pegawai kami diminta menonton film yang ada, kemudian melihat berbagai referensi yang muncul. Informasi yang telah kita dapat diserahkan kepada ilmuwan data untuk dianalisis lebih lanjut,” kata Todd.
 
“Kita tak pakai umur, kita tak pakai gender. Karena ada perempuan berumur 70 tahun yang gemar menonton film superhero. Atau pria berusia 90 tahun suka film dokumenter.”
 
Netflix menentukan referensi film dengan membagi berdasarkan cluster. Setidaknya ada 2.000 cluster yang menampilkan beragam referensi film. Menariknya, Todd menjelaskan satu cluster tidak melulu menampilkan genre yang sama.
 
“Ada yang suka Black Mirror, dan di cluster yang sama ada variety show yang sama sekali tidak bersifat fiksi ilmiah.”
 
Pertimbangan Netflix adalah otak pengguna yang biasanya suka satu genre film, secara sadar tak selalu menyukai genre tersebut. Ada bagian otak lain yang mungkin suka dengan film drama.
 
Targetnya untuk menghadirkan beragam konten. Secara tidak langsung, pengguna Netflix juga tidak cepat bosan karena menonton film dengan genre yang sama terus-menerus. “Intinya adalah menghadirkan konten terbaik untuk orang yang sesuai, pada waktu yang tepat.”
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif